Showing posts with label madiun. Show all posts
Showing posts with label madiun. Show all posts

Friday, 7 October 2022

Rumah Coklat Bodag, Kabupaten Madiun

 


Siapa sih, yang gak kenal dengan cokelat? Dengan rasa manisnya bisa menenangkan hati dan menaikkan mood. Itu yang saya rasakan ketika mengkonsumsi cokelat. Kebetulan dapat info dari teman kantor bahwa di Kabupaten Madiun ada destinasi wisata tentang cokelat. Langsung deh meluncur ke “Rumah Coklat Bodag”

Lokasi Rumah Coklat Bodag tidak jauh dari Kota Madiun. Dengan jarak sekitar 19 km atau kurang lebih 30 menit sudah bisa sampai di lokasi. Tempat ini berada di ketinggian sekitar 600 mdpl, sehingga jalan yang harus dilalui sedikit menanjak dan berkelok – kelok. Namun semua itu terbayar dengan sejuknya udara di Rumah Coklat Bodag.


Dari tempat parkir kendaraan, kita disuguhi dengan showcase yang berisi produk yang dihasilkan oleh Rumah Coklat Bodag. Mulai dari cokelat batang dengan berbagai kemasan, juga cokelat bubuk. Baik varian dark chocolate maupun milk chocolate. Untuk cokelat bubuk tersedia varian coklat murni, dan coklat 3 in 1 (cokelat, susu, dan gula/creamer) dengan ukuran besar dan kemasan sachet. Selain itu terdapat merchandise berupa gantungan kunci. Asllan tentu saja langsung memilih gantungan kunci untuk oleh-olehnya. Kalo saya sih, langsung membeli semua varian coklat yang tersedia untuk camilan di rumah. Oya, semua produk yang dihasilkan diberi merk Madcho yang berarti singkatan dari Madiun Coklat.

cokelat bubuk



cokelat batang


Sebelum sampai di lokasi showcase yang berdekatan dengan meja kasir, sebenarnya terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk tempat produksi atau sebagai ruangan wisata edukasi. Sayangnya ketika saya berkunjung ke sana, ruangan itu tertutup. Mungkin karena tidak ada rombongan yang sedang melakukan wisata edukasi.



Di belakang meja kasir, terdapat sebuah tempat yang agak luas dibandingkan dengan yang lain. Terdapat beberapa set table round, dan bagian belakang bisa dipasang spanduk jika diperlukan. Sepertinya tempat ini masih menjadi lokasi rangkaian wisata edukasi.

Fasilitas yang ada di tempat ini adalah mushola, dan toilet serta gazebo yang tertata rapi untuk tempat duduk pengunjung. Asllan memilih gazebo yang paling ujung dimana gazebo ini dekat dengan toilet dan mushola. Pinter juga pilihannya….

Rumah Coklat Bodag ini juga menyediakan camilan, makanan dan minuman dengan harga yang terjangkau. Karena bukan jam makan siang, maka kami hanya pesan camilan saja yaitu kentang goreng dan minuman cokelat hangat. Sesederhana itu tapi terasa nyaman dengan suasana di Rumah Coklat Bodag yang sejuk.



Oya, kami berkunjung ke sana di Bulan Januari 2022. Jadi dokumentasi yang ada adalah kondisi pada saat itu. Mungkin ada yang sudah berkunjung ke sana setelah Bulan Januari 2022? Bisa sharing bagaimana kondisinya sekarang ya….

Saturday, 23 January 2021

Menanamkan Rasa Syukur dan Empati Pada Anak

     Sebagai orangtua, pastinya kita menginginkan anak memiliki rasa peduli terhadap sekitarnya, bukan? Rasa peduli itu dapat diwujudkan dalam rasa syukur dan empati. Nah, postingan kali ini saya akan bercerita bagaimana cara menanamkan rasa tersebut pada diri Asllan.

    Asllan sekarang sudah umur delapan tahun, kelas 2 SD. Sudah saatnya dia memiliki rasa peduli terhadap sekitarnya. Secara, sekarang ini rasa peduli tersebut mulai luntur pada zaman yang serba digital. Hingga terbersit ide dari ayah untuk mengajak Asllan ikut dalam kegiatan amal.

    Kegiatan amal yang paling simpel adalah bersedekah ke panti asuhan. Sebenarnya kegiatan seperti ini gak asing untuk Asllan. Karena di masa toddler hingga TK B, kegiatan amal rutin dilakukan sebagai salah satu kegiatan sekolahnya Asllan. Nah, kali ini kami akan melakukan amal tapi secara pribadi alias keluarga saja.

    Panti asuhan yang kami pilih adalah Yayasan Bananul Amanah yang berlokasi di Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Lokasi yang cukup terjangkau dari rumah kami. Apakah kami pernah berkunjung sebelumnya? Belum. Kami hanya bermodalkan googling panti asuhan atau SLB di Madiun.

    



Akhirnya tepat pada tanggal 1 Januari 2021 kami mengunjungi SLB Banjarsari Wetan, Yayasan Bananul Amanah. Yang pertama kami tuju adalah asramanya. Kebetulan pada saat kami ke sana, anak-anak penghuni asrama banyak yang sedang melakukan kegiatan di serambi. Sungguh trenyuh ketika kedatangan kami disambut mereka dengan semua “keistiewaan” yang dimilikinya.

    Asllan sempat terbengong melihat mereka. Namun saya menjelaskan bahwa mereka adalah teman-teman Asllan meski dengan kondisi “istimewa”. Asllan juga terlihat sedih, mendengar cerita salah satu pengasuhnya bahwa anak-anak tersebut banyak yang sudah yatim piatu. Asllan langsung memeluk saya, dan bilang “kita bantu mereka ya, bun”

    Dalam perjalanan pulang kami melewati bangunan sekolah, dimana mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dan di ujung jalan itu terdapat workshop hasil karya mereka yang memiliki keistimewaan tuna rungu maupun tuna netra. Banyak sekali hasil karya yang dipamerkan. Mulai dari mukena, gamis, kain batik, masker, dan sebagainya.



    Hasil karya mereka selain dipasarkan di workshop tersebut juga dapat ditemui di mal pelayanan publik kabupaten madiun. Selain itu mereka memasarkannya lewat media sosial seperti Instagram dengan alamat batiksibaran.

    Melihat hasil karya mereka, Asllan terlihat bangga. Dia mengakui bahwa mereka hebat. Dengan semua keistimewaan yang dimiliki tapi bisa menghasilkan karya yang bermanfaat. Saya dan suami tersenyum simpul mendengar semua komentar asllan hari ini.

    Alhamdulillah, rasa syukur dan empati sepertinya sudah mulai tertanam di hati Asllan. Semoga akan terus berkembang sesuai dengan pertambahan usianya.

Sunday, 14 October 2018

Piknik Tipis-Tipis Ke Watu Rumpuk, Desa Mendak, Kabupaten Madiun.




Yuhuuu… hari sabtu tlah tiba…
Kali ini saya memaksa ayah untuk jalan-jalan alias piknik tipis-tipis di Hari Sabtu. Jalan-jalan yang agak jauh tapi puas. Hari minggunya masih bisa istirahat di rumah sebelum kembali beraktivitas di Hari Senin.
Pilihan kali ini jatuh ke tempat wisata baru yaitu Watu Rumpuk. Watu rumpuk terletak di Desa Mendak Kecamatan Dagangan, Kab. Madiun. Berjarak sekitar 25 km dari rumah kami, Watu Rumpuk dapat kami tempuh dengan lama perjalanan kurang lebih satu jam.
Pada tanggal 8 September 2018, saya, ayah dan Asllan mengunjungi Watu Rumpuk melalui Dolopo. Dari masjid besar Dolopo belok ke kiri. Pada traffic lightnya ada petunjuk arah ke Watu Rumpuk. Yang saya ingat ada patung semar di perempatan tersebut.
Saya dan ayah sengaja berangkat dengan perut kosong alias belum sarapan. Kami berniat sarapan nasi pecel daun jati di tengah perjalanan kami. Kalo Asllan tetap sarapan dari rumah dong.
Nasi pecel daun jati dapat kita temui tidak jauh dari perempatan masjid besar Dolopo. Sekitar 300m ada penjual nasi pecel tersebut di kanan jalan. Dua ratus meter kemudian dapat kita temui juga nasi pecel daun jati di sebelah kiri jalan. Hanya dengan harga Rp. 5.000,- sudah dapat menikmati nasi pecel dengan lauk tempe goreng dan peyek. Yang jelas perut sudah kenyang dong…
Perjalanan kami lanjutkan lagi. Setelah memasuki gapura masuk Desa Siluk, ada petunjuk arah belok kiri jika akan ke Watu Rumpuk. Kita ikuti saja petunjuk arah tersebut, sudah banyak tersedia, kok.
Jalan yang dilalui lumayan ekstrim. Naik turun dengan tikungan-tikungan yang tajam. Ditambah dengan aspal yang sudah mulai mengelupas membuat ayah sangat berhati-hati mengendarai motornya.
Akhirnya sampai juga kami di gerbang unik yang ternyata loket pembayaran tiket masuk. HTM watu rumpuk yaitu Rp. 5.000,-/orang dan parkir roda dua sebesar Rp. 2.000,-. Tiket parkir jangan sampai hilang, karena akan diminta ketika kita parkir.
Ketika kami ke sana, pembangunan watu rumpuk masih terus berlangsung. Namun fasilitas yang telah jadi menjadikan pengunjung puas mengunjunginya.
Ada sitemark watu rumpuk di depan parkir. Cukup besar untuk foto dengan rombongan yang banyak. Yang menjadi nilai jual dari watu rumpuk adalah batu-batu besar yang unik dan dipadukan dengan taman bunga warna warni yang tertata indah. Membuat batu-batu besar tersebut terlihat cantik.
Selain itu adapula rumah pohon dan beberapa gubug yang bisa digunakan untuk bersantai. Tempat sampah dan puntung rokok banyak tersedia sehingga lokasi terlihat bersih. Fasilitas umum yang ada yaitu toilet dan mushola. Food court juga tersedia yang dilokalisir dekat mushola.
Asllan senang sekali naik di rumah pohon. Berani naik sampai atas bersama ayah, lho. Dan Asllan juga semangat memanjat batu-batu besar itu. Tentu saja dengan pengawasan saya dan ayah. Bermain kejar-kejaran di jalur yang tersedia dan juga bermain petak umpet diantara kebun bunga menjadi kegiatan kita selanjutnya.
Nah, saking semangatnya berlarian, Asllan terasa laper. Maka kami menuju foodcourt. Banyak menu yang ditawarkan antara lain bakso, mi, pentol, gorengan, dan sate ayam. Pilihan kami tertuju pada sate ayam. Wah, lumayan juga menu yang tersedia di foodcourt ini.
Di atas musholla ada anak tangga yang menuju ke sebuah lokasi di bukit. Asllan semangat sekali mengajak kami menaikinya. Di atas ada beberapa spot foto yaitu kapal, lingkaran seperti sarang burung, dan spot bukit cinta.
Bukit cinta sepertinya diperuntukkan para muda mudi. Terlihat dari ornamen yang dipasang dan juga kalimat-kalimat cinta yang tertulis di beberapa tempat.
Kemudian ada pula rumah pohon atau lebih tepat disebut gardu pandang. Tapi Asllan tidak mau menaikinya. Asllan lebih memilih untuk terus berjalan hingga sampai di sisi lain tangga yang menurun. Ketika kami menuruninya, ternyata tangga ini adalah tangga yang terletak di samping sitemark watu rumpuk. Yang artinya kami sudah sampai di tempat parkir dan bersiap untuk pulang.
Saya, ayah dan Asllan sangat puas menghabiskan waktu di watu rumpuk. Semoga pembangunannya segera selesai dan menambah fasilitas di watu rumpuk.

Saturday, 22 September 2018

Ngadem di Nongko Ijo


Kejadian yang akan saya tuliskan ini ketika Kota Madiun sedang panas-panasnya. Mau keluar rumah kok matahari semangat sekali menyinari bumi. Kalau berdiam di rumah pengap banget juga. Mau pakai kipas angin tetap angin panas yang dihembuskannya. Duh, mau ngapain enaknya?
Sepertinya enak kalau main ke tempat yang berhawa sejuk. Asllan dan Ayah setuju untuk jalan-jalan ke tempat yang sejuk. Dimanakah itu? Pilihan kali ini jatuh kepada...Nongko Ijo.
Sebuah tempat wisata berupa hutan pinus di daerah Karee, Kabupaten Madiun. Lokasi ini terletak di sebelah Timur Kota Madiun. Berjarak kira-kira 45 menit dari rumah kami. Setelah melewati Pasar Karee, perjalanan sedikit menanjak dan berkelok-kelok. Tidak sulit mencari lokasi ini karena banyak petunjuk yang terpasang selepas Pasar Karee.
Kami memang berangkat pukul 07.00 WIB dari rumah. Harapan kami adalah lokasi masih sepi dari pengunjung sehingga bisa tambah santai menikmati Nongko Ijo. Benar saja, kami sampai di lokasi Nongko Ijo kurang lebih pukul 07.50 WIB. Motor kami adalah motor ketiga yang mengisi tempat parkir kawasan ini.
Hal pertama yang kami lakukan ketika sampai di sana adalah sarapan. Jam segitu memang belum semua warung buka. Ada satu warung yang menjadi pilihan kami untuk sarapan. Kami memesan nasi soto untuk Asllan, Nasi pecel untuk Ayah, dan Nasi pecel lele untuk saya.
Warung yang ada di Nongko Ijo tertata di luar Gapuro. Warung-warung tersebut berjajar, dan terdapat sebuah gasebo di seberangnya. Jadi kita bisa makan di gasebo tersebut.
Lokasi Nongko Ijo sendiri tidak beda dengan wisata hutan pinus lainnya. Terdapat selfie deck berbentuk I Love You, dan juga sebuah rumah pohon. Selain itu terdapat beberapa ayunan dari kayu. Jika ingin bersantai tersedia beberapa gasebo dan kursi buatan dari kayu.
Tiket masuk ke Nongko Ijo sebesar Rp. 6.000,- (menurut informasi juru parkir). Kebetulan saat kami tiba di sana, belum ditarik tiket masuk. Hanya membayar parkir sebesar Rp. 5.000,- untuk sepeda motor.
Memang benar, semakin siang pengunjung semakin ramai. Bahkan lahan parkir yang tadinya sepi kini tidak muat menampung banyaknya sepeda motor yang parkir.
Meski tidak ada wahana permainan apapun, tapi lumayan bisa mendapatkan hawa yang sejuk di sini. Menikmati kesejukan hawa pinus sambil duduk-duduk sejenak.

Wednesday, 27 June 2018

Umbul Square


Sebetulnya sudah lama saya ingin mengajak Asllan dan Ayahnya berkunjung ke Umbul Square. Lokasi yang sering saya lewati ketika perjalanan ke hutan, menumbuhkan rasa penasaran. Ditambah cerita dari beberapa teman yang sudah berkunjung ke sana menjadikan saya semakin bersemangat untuk segera mengunjunginya.
Akhirnya pada tanggal 21 Januari 2018 saya mengajak Asllan dan Ayahnya ke Umbul Square. Komentar pertama yang keluar dari Asllan adalah “jauh”. Tapi dia tetap semangat ingin tahu ada apa di dalamnya.
Setelah dari parkiran, yang pertama kami temui adalah gedung klinik dan karantina satwa. Saya dan suami senang dengan adanya gedung ini. Karena itu pertanda bahwa manajemen Umbul Square peduli terhadap satwa di dalamnya.
Zona pertama yang kami kunjungi adalah minizoo Wanamarta. Mulai dari burung kasuari, burung kakaktua, musang, ular, buaya, monyet, landak, simpanse, merak, dan singa. Masing-masing kandang terdapat papan informasi yang memudahkan pengunjung untuk mengetahui tentang satwa penghuni kandang tersebut.
Di kandang anakan buaya muara, terdapat tawaran untuk berfoto dan memberi makan buaya (tentu saja dengan didampingi keeper). Tidak disangka ternyata Asllan ingin pegang anakan buaya tersebut. Langsung saja saya mengijinkan, dong. Dengan didampingi ayahnya dan mas keeper, Asllan langsung pegang anakan buaya tersebut.
Selain foto dengan anakan buaya, Asllan dan ayahnya juga memberi makan rusa di kandangnya. Kebetulan memang telah tersedia pakan yang bisa dibeli untuk diberikan kepada rusa.
Selain aneka satwa, di zona minizoo tersebut terdapat beberapa tanaman langka yang sudah diberi papan informasi mengenai nama latin dan fungsi dari masing-masing jenis tanaman tersebut. Tentu saja bisa meningkatkan pengetahuan pengunjung. Namun yang perlu diingat, tanaman tersebut bukan untuk dibawa pulang.
Setelah selesai dari zona minizoo, kami melanjutkan perjalanan ke wahana permainan. Terdapat bianglala yang cukup tinggi, komedi putar, dan kora-kora, dengan harga tiket Rp. 5.000,- untuk masing-masing permainan. Pilihan kami jatuh pada bianglala. Bianglala ini berjalan perlahan karena pada posisi puncaknya cukup tinggi. Sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan sekitar Umbul Square dengan nyaman.
Dari ketinggian pada bianglala itulah, kami melihat adanya zona waterboom, outbond, dan taman lampion di kawasan Umbul Square. Tentu saja, lokasi tersebut menjadi target kunjungan kami selepas turun dari bianglala.
Dalam perjalanan menuju lokasi outbond, kami tertarik pada pojok sejarah. Ternyata ada sebuah sumber mata air belerang di sini. Disebut dengan sumber air belerang Tirta Amerta. Selain itu, terdapat sebuah makam di dalamnya. Tidak terlalu lama kami berada di pojok sejarah, karena Asllan mengajak ke zona outbond.
Zona outbond sebenarnya cukup lengkap, namun sepertinya jarang digunakan. Dan ketika kami berkunjung ke sana tidak ada petugas yang menjaganya. Jadilah kami para orangtua yang menjaga anak masing-masing.
Di samping zona outbond, terdapat zona lampion. Sebenarnya sangat menarik lampion yang ditawarkan. Hanya saja saya kurang tau, apakah Umbul Square ini buka sampai malam. Karena kecantikan zona lampion pasti akan terlihat ketika malam tiba.
Setelah zona lampion, sampailah ke zona waterboom dengan harga tiket Rp. 5.000,-/ orang. Karena Asllan tidak kami persiapkan untuk bermain ke waterboom, jadilah kami hanya melihat dari luar saja.
Di samping waterboom, terdapat zona mainan modern. Seperti otopet, eksavator pasir, dan odong-odong. Tentu saja, Asllan langsung minta mainan eksavator pasir favoritnya. Sambil menunggu Asllan bermain eksavator, saya tertarik dengan keberadaan seekor ular sanca albino. Ternyata, ular tersebut adalah sebuah property untuk foto yang disediakan bagi pengunjung yang berminat.
Ketika saya tawarkan ke Asllan, ternyata dia dengan semangat mau foto dengan ular sanca tersebut. Jadilah kami sekeluarga foto dengan ular tersebut. Wah, ternyata lumayan berat juga si albino ini. Yang membuat saya senang adalah Asllan sama sekali tidak takut untuk pegang si albino. Padahal saya sebetulnya merinding disko harus pegang si albino ini.
Hemmm…, dengan tiket masuk seharga Rp. 20.000,-/pengunjung ketika hari sabtu/minggu/libur, kami puas dengan keberadaan wahana di Umbul Square ini. Bisa dijadikan referensi tempat liburan di Madiun, deh.

Saturday, 30 September 2017

Bersantai Di Taman Trembesi Madiun

Hari libur kali ini Asllan minta jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Sempat terlintas di benak saya akan mengajak Asllan ke daerah Ponorogo. Namun niatan tersebut ditolak suami karena tidak ada persiapan yang matang.
Untung saja saya ingat pembicaraan teman-teman di kantor bahwa di belakang kantor telah dibuka taman baru. Dan ketika saya sampaikan ke suami maupun Asllan mereka setuju.
Hanya berjarak 700 meter dari rumah tibalah kami ke tempat tersebut. Taman Trembesi namanya. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 3.000,-/orang kami langsung menuju tempat duduk yang dekat dengan stand karyawati kantor.
Taman Trembesi ini sebetulnya adalah TPK (Tempat Penimbunan Kayu) milik Perum Perhutani KPH Madiun. Saat ini menjadi optimalisasi asset bagi KPH Madiun, maka dibentuklah Taman Trembesi. Disebut Taman Trembesi karena pohon peneduhnya adalah Pohon Trembesi.
Wahana yang disajikan antara lain panahan dan arena tembak serta ATV. Tidak terlalu beragam memang, karena Taman Trembesi mempunyai daya tarik lain. Ayunan, meja kursi, spot selfi dan juga area api unggun mini sebagian besar terbuat dari kayu. Yang menjadi favorit kami adalah ketika daun trembesi gugur tertiup angin. Wah, sangat indah jika dijadikan latar untuk berfoto. Hal unik lain yang kami temui di tempat ini adalah meja kursi ayunan. Jadi ayunan ini sebaiknya dipakai untuk dua orang agar seimbang.
Tak lama bersantai, kami merasa lapar. Ini saatnya kami menuju stand kuliner. Warung yang tersedia semua dikelola oleh karyawan Perhutani. Terdapat sekitar enam stand yang menyediakan aneka makanan dan minuman.  Pilihan saya dan Asllan jatuh pada donat kentang, pentol goreng, serta lumpia. Untuk minumnya kami memilih milkshake cokelat.

Dari semua wahana yang ada hanya ATV yang dinaiki Asllan dan Ayahnya. Selebihnya kami lebih memilih duduk bersantai sambil menikmati snack yang telah kami pilih. Bisa dikatakan tempat ini layak menjadi pilihan bersantai di tengah kota Madiun.

Saturday, 22 July 2017

Kafe Ramah Anak di Kota Madiun

Sebagai mahmud alias mamah muda (cieeee....) saya juga ingin tetap mendapatkan me time alias waktu rehat. Namun ada kalanya me time tidak bisa dilakukan sendirian dan harus tetap mengajak si kecil.
Sekarang saya tidak perlu khawatir, karena ada sebuah cafe yang ramah anak di kota Madiun. M cafe namanya. Lokasinya berada di Plaza Madiun lantai dua, bersebelahan dengan Maju Hardware. Untuk orang asli Madiun atau yang sedang tinggal di Madiun pasti tidak sulit menemukan lokasi ini. Plaza Madiun terletak di Jl. Pahlawan. Kurang lebih 500m ke arah Selatan dari Stasiun Kereta Api Madiun.
M Cafe adalah sebuah cafe yang menyediakan arena bermain untuk anak. Arena bermain tersebut terdiri dari prosotan, ayunan, dan rumah-rumahan yang semuanya dari bahan plastik. Arena bermain terletak di pojok sehingga relatif aman. Selain di pojok, letaknya juga hanya berjarak 3 meter dari meja kursi pengunjung. Sehingga saya bisa memilih tempat duduk yang paling dekat dengan arena bermain.
Alasan berikutnya kenapa saya memilih M Cafe adalah menunya yang beragam baik dari makanan maupun minumannya. Menu favorit saya dan suami adalah french fries dan milkshake dan kopi. Selain itu tersedia pula wifi gratis dan beberapa spot yang instragamable.
M cafe buka mulai siang hingga malam hari. Pengunjungnya pun terdiri dari beragam kalangan. Namun memang mayoritas pengunjungnya adalah keluarga. Tidak jarang datang pula kelompok pelajar/mahasiswa yang mengerjakan tugas mereka.
Kursi dan meja yang disediakan beragam. Ada yang berupa sofa, ada pula meja kursi kayu dengan view Jalan Pahlawan. Bisa dipilih sesuai dengan keinginan pengunjung.

Tidak salah, bukan? Jika M Cafe menjadi langganan saya dan keluarga.