Sunday, 20 August 2017

Negeri Dongeng di Hutan Pinus

Suntuk dan bosan dengan kesibukan sehari-hari? Itu pertanda sudah saatnya menghentikan rutinitas sejenak dan melanconglah!. Melancong untuk mencari kebahagiaan? Mengapa tidak? Mari kita lakukan!
Mencari kebahagiaan tidak perlu biaya mahal. Bahagia itu berawal dari hati. Salah satu cara untuk bahagia adalah dengan melancong. Salah satu tempat yang rekomended adalah wisata songgo langit “seribu batu”.
Songgo langit terletak di Dusun Sukarame, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika ditempuh dari kota Yogyakarta membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan. Arah yang ditempuh adalah terminal giwangan ke selatan hingga pasar imogiri. Kemudian belok kiri arah makam raja imogiri. Berjalanlah terus hingga pertigaan, belok kanan menuju wisata kebun buah mangunan. Sampai di tugu mangunan ambil jalan yang lurus. Tidak jauh kemudian sudah ada papan petunjuk tempat parkir “Rumah Hobit, Seribu Batu”.
Tiket masuk wisata Seribu batu adalah Rp. 2.000,-/orang. Sebelum ke pintu masuk kita dapat melihat denah lokasi wisata. Sehingga pengunjung mendapat gambaran keberadaan spot yang akan dituju.
Ikon dari wisata ini adalah rumah hobit yang berjumlah dua buah. Disebut rumah hobit karena bentuknya yang kecil dan mirip dengan rumah hobit di Film The Lord of The Ring. Memang kita dilarang untuk masuk ke dalamnya. Namun hanya dengan berfoto di serambinya saja sudah menjadikannya sangat unik.
Selain itu ternyata banyak spot yang menawan untuk dijadikan lokasi selfie. Ada rumah seribu kayu yang membuat kita seakan-akan berada di kampung kurcaci. Spot beruang kayu, kupu-kupu kayu serta bunga teratai juga sangat indah diabadikan.
Bagi yang akan melakukan pertunjukan bisa menggunakan salah satu spot di sini. Pasti nuansa alami akan anda dapatkan. Panggung dan kursi penonton semua terbuat dari kayu. Jangan membayangkan kursi duduk dari kayu, ya! Kursi penonton terbuat dari potongan kayu yang masih berbentuk batang pohon.
Spot unggulan lain adalah jembatan jomblo tak kalah menarik dengan rumah hobit. Tenang saja, bukan berarti hanya yang jomblo yang boleh lewat. Bukan pula yang telah lewat akan menjadi jomblo. Jika Anda melewatinya pasti tahu jawabannya.
Selain spot foto, terdapat pula rumah kelinci yang tentu saja menjadi favorit anak-anak. Terdapat beberapa ekor kelinci yang melakukan aktivitas di rumah kelinci. Untuk yang hanya ingin sekedar bersantai bisa duduk-duduk di “kursi” pohon yang tersedia. Nikmatilah sejuknya hawa hutan pinus. Bagi yang suka dengan tantangan, bisa mencoba flying fox cukup dengan Rp. 15.000,- saja. Meluncurlah dengan bahagia, guys!
Selain memunculkan berbagai spot layaknya negeri dongeng, wisata ini juga sudah dilengkapi dengan fasilitas umum. Beberapa warung makan sudah berjajan rapi di depan pintu keluar. Selain itu mushola dan toilet juga tersedia di sekitar tempat parkir dan pintu keluar.
Bagaimana dengan kebersihannya? Bisa dikatakan lokasi ini bersih dari sampah. Selain pengelola menyediakan tempat sampah di lokasi-lokasi strategis, ada petugas kebersihan yang akan memungut sampah yang masih berceceran.

Nah, setelah berhasil menemukan bahagia, alangkah baiknya jika kita ikut menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya. 

Wednesday, 9 August 2017

Sepuluh Bulan di Malang

Sepuluh bulan sudah saya tinggal berjauhan dari anak dan suami. Saya harus kerja di kota Malang sedangkan anak dan suami tetap tinggal di Madiun. Memang sangat berat terasa harus berpisah sementara waktu.
Saya akui Malang memang kota yang indah dan menyenangkan. Transportasi dalam kota mudah, banyak angkot dengan segala macam jurusan dengan tarif yang terjangkau. Pelajar hanya membayar Rp. 2.000,- sedangkan umum harus membayar Rp. 4.000,- dan kita akan diantar sesuai rute jurusan angkot tersebut.
Tentang kuliner di Malang, saya mengakui banyak kuliner yang dapat memanjakan lidah. Selain itu banyak pula kuliner yang menawarkan lokasi yang menarik. Pengunjung bisa menyesuaikan kebutuhan dan keinginannya.
Selama tinggal di Malang, saya memilih menempati kos di Jalan Kelud yang tidak jauh dari kantor saya yang terletak di Jalan Kawi. Sehingga untuk menuju ke kantor maupun pulang ke kos cukup dengan jalan kaki saja. Hitung-hitung sekalian olahraga setiap pagi.
Hanya beberapa tempat yang pernah saya singgahi selain kantor dan kos antara lain :
Malang Olympic Garden atau sering disebut dengan MOG. Adalah salah satu Mall di kota Malang. Lokasi dari MOG ini hanya 300 meter di Barat kantor saya. Tak heran jika MOG menjadi salah satu tujuan saya ketika di Malang. Antara lain sebagai tujuan cuci mata, makan dan mencari keperluan tertentu. Ketika itu saya mencari parcel lebaran untuk teman-teman satu ruangan dan untuk ibu kos. Selain itu saya juga mencari baju cheongsam untuk Asllan di Center Point yang ada di MOG. Pernah juga mengantar teman kos mencari keperluannya serta diajak teman sekantor makan di Hoka-Hoka Bento yang ada di MOG.
Sebagai salah satu pusat pembelanjaan, Ramayana juga hadir di Kota Malang. Lokasi dari Ramayana adalah sebelah timur Alun – Alun Kota Malang.  Dua kali saya mengunjungi Ramayana. Ketika mengantar teman kos beli baju baru untuk Lebaran dan ketika mencari baju cheongsam untuk Asllan. Ada Dunkin Donuts yang terletak persis di samping Ramayana. Ramayana dan Dunkin Donuts bisa ditempuh dengan angkot MM ke arah Timur dari kantor.
Matahari departemen store juga ada di Kota Malang. Terletak di sebelah Utara –Timur dari Ramayana dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Sehingga cukup dengan berjalan kaki dari Ramayana tidak sampai lima belas menit sampailah di Matahari. Meskipun pada pertengahan tahun 2016 sempat mengalami kebakaran, namun kini mulai beroperasi lagi. Baru satu kali saya mengunjunginya yaitu saat mencari baju cheongsam untuk Asllan. (kesimpulannya, saya harus muter-muter untuk mendapatkan baju cheongsam untuk Asllan)
Malang City Point, sepertinya Mall yang terbilang baru di Kota Malang. Mall ini terletak di samping Dieng Plaza di Jalan Terusan Dieng, Malang. Arah Barat kalau dari kantor di Jalan Kawi. Hanya sekali saja saya mengunjunginya. Masih banyak ruang yang kosong dan pengunjung tidak terlalu ramai. Ace Hardware yang menjadi tujuan saya ketika di sini. Malang City Point bisa ditempuh dengan angkot MM arah ke Barat dari kantor. Namun kita hanya bisa turun di perempatan Dieng Plaza, kemudian jalan 50 meter hingga sampai di Mall ini.
Untuk gadget (laptop) sangat banyak tersedia di Dieng Plaza. Selain menyediakan laptop, tempat ini juga menjadi langganan penduduk Malang untuk service laptop. Sedangkan untuk handphone banyak tersedia di Gajah Mada Plaza. Namun saya belum sempat mengunjunginya.
Malang terkenal dengan kota yang sejuk meski masih kalah sejuk dengan Kota Batu. Alangkah nikmatnya jika ditemani dengan Jagung Bakar. Tidak perlu menempuh perjalanan jauh dari kos. Saya dan teman kos meluncur ke Jagung Bakar Pulosari. Ketika itu kami naik sepeda motor, akan tetapi lokasi ini bisa ditempuh dengan angkot LG dari kantor.
Saya memang bukan pecinta kopi. Agak terasa aneh ketika diajak teman kos dan teman kantor untuk mengunjungi Kopi Aceh Sanger di Jalan Bunga Cokelat. Penasaran juga ada makanan atau minuman apalagi selain Kopi Aceh. Lokasi didesain seperti cafe bagi anak muda. Dengan meja dan kursi yang minimalis. Saya memesan mi aceh dan jus alpukat kala itu. Sedangkan teman kerja yang memang asli dari Sumatera memesan Kopi Aceh. Ketika itu kami naik sepeda motor untuk menuju ke sana. Sayang sekali saya kurang paham angkot apa yang bisa membawa ke lokasi tersebut.
Di Malang siapa sih yang gak kenal dengan bakso? Ya, bakso memang menjadi kuliner favorit. Gak perlu jauh-jauh untuk bisa mencicipi bakso yang endess. Salah satunya adalah bakso mas adi yang lewat di depan kos (Jl. Bareng kartini). Favorit saya adalah bakso goreng bundar, bakso urat/kasar serta pangsit rebusnya. Mas adi lewat setelah pukul 17.00 WIB setiap harinya. Dengan panggilan khasnya yang berbunyi “thik thok thik thok” membuat saya dan ibu kos langsung membuka pintu ketika dia lewat.
Selain bakso Mas Adi, ada juga Bakso Dong di Jl. Kauman. Lokasi yang dekat dari kantor menjadikan mudah untuk menjangkaunya hanya dengan jalan kaki.
Bakso sudah kita bahas, sekarang saatnya membahas soto. Ya, soto yang sering saya singgahi selama di Malang adalah soto pagi yang berada di Taman Salak. Namanya juga soto pagi, pastikan kita sudah menyantapnya pada pukul 06.30 WIB. Selebihnya dijamin menyesal karena habis.
Tak jauh dari soto pagi, ada sebuah warung yang juga menjadi favorit saya. Yaitu jus gajayana. Terletak di pojok utara stadion gajayan. Sebetulnya warung jus tidak terlalu besar. Namun jangan ditanya jus yang dihasilkan. Heemmm...lezzaat...kental dengan rasa buah yang kuat.
Sebagai ‘anak kos’ biasanya akan bingung dengan makan malam. Namun lokasi kos yang berada di sekitar Jl. Kelud menjadikannya mudah. Ya, di sepanjang Jl kelud terdapat sate ayam dan gule, capcay juga nasi goreng di depan polsek klojen, kemudian ada pula penyetan di pojokan gang, tak lupa ada pula tahu telor di dalam gang. Cukup beragam bukan?
Untuk sarapan pun saya tidak terlalu bingung. Kebetulan samping kos persis adalah sebuah warung sayur mentah dan matang serta camilannya. Yang selalu saya beli adalah buntil seharga Rp. 3.500,- atau pepes (tahu, pindang) dengan harga Rp. 1.000,- dan susu kedelai dengan harga Rp. 1.000,-. Harga yang sangat terjangkau bukan? Nasi putih tinggal beli di kantin kantor. Meskipun menjadi anak kos, namun tetap bergizi dong makanannya.
Sebagian besar waktu memang saya habiskan di kos atau kantor. Saya memang tergolong jarang keluar kos. Meski begitu ada beberapa tempat yang sudah saya datangi. Salah satunya adalah splendid. Splendid terletak di jl. Tumapel dekat dengan bundaran bambu runcing. Splendid adalah surga dunia bagi pecinta tanaman. Kalau mau membeli tanaman dan merancang taman di sinilah anda bisa terpuaskan. Splendid selain menjadi pusat tanaman hias juga sebagai pusat pasar hewan di kota malang. Kalau dari kos bisa naik angkutan MM tujuan stasiun.
Selain splendid, salah satu lokasi yang menjadi favorit saya adalah pasar buku wilis. Tidak jauh dari kantor sebenarnya. Cukup sekali angkot LG sudah sampai di pasar buku wilis. Di sinilah sorga dunia bagi pecinta buku. Segala buku bekas maupun buku baru tersedia di sini dengan harga yang jauh lebih murah daripada di toko buku. Namun perlu diperhatikan, terkadang terdapat buku hasil fotokopian.
Lokasi yang paling setia dengan keberadaan saya adalah stasiun kota malang. Untung saja lokasi stasiun tergolong dekat dan bisa ditempuh dengan satu kali angkot yaitu MM. Sebenarnya di seberang stasiun ada taman rakyat yang bisa digunakan untuk bersantai bersama keluarga. Namun saya belum pernah mencobanya.
Nah, setelah saya menceritakan tentang beberapa lokasi yang pernah saya singgahi, sekarang saya akan bercerita tentang kos tercinta. Awal datang di Malang saya tidak tertarik dengan tempat kos ini. rencana awal hanya satu bulan saja saya kos di situ. Lokasinya memang dekat dengan kantor. Cukup ditempuh dengan jalan kaki, dan dekat dengan warung makan. Sehingga tidak perlu pusing untuk mencari makan malam. Namun bangunan ini adalah bangunan rumah tinggal dengan dua kamar kosong sehingga sepi. Ibu kos adalah purnawirawan polri yang sudah sepuh. Beliau tinggal sendiri di rumah. Jadilah saya dan teman saya sebagai “teman” bagi beliau. Selama sepuluh bulan saya tinggal di rumah tersebut saya sudah mengalami empat kali ganti teman kos. Sangat terasa ibu kos lebih dekat kepada saya. Dan saya merasakan bahwa beliau sedih ketika saya harus kembali ke Madiun dan meninggalkannya.
Salah satu dan yang paling berarti bagi saya selama di Malang adalah dukungan dari teman satu ruangan di kantor. Saya sangat berterima kasih kepada mbak ira, pak budi dan pak untung. Mereka selalu menghibur disaat saya sedang down baik dengan banyolan dan juga empati. Mereka berusaha memperkenalkan saya dengan indahnya kota malang. Terima kasih tak terhingga atas doa dan semangat serta rasa kekeluargaan yang telah diberikan untuk saya. Sukses untuk kalian semua...

Dan....akhirnya mulai tanggal 6 Maret 2017 saya sudah resmi bekerja kembali di kota  Madiun tercinta. Bisa mendampingi asllan dan ayah setiap hari....Alhamdulillah....

Tuesday, 25 July 2017

Rumah Apung Bangsring

Banyuwangi bisa dikatakan sebagai kota paling timur di Pulau Jawa. Kota ini dekat dengan selat Bali  sehingga menjadikan keuntungan tersendiri baginya. Bagaimana tidak? Terletak di pesisir selat Bali membuat Banyuwangi memiliki pantai yang cukup beragam keunikannya. Sehingga bisa diandalkan untuk meningkatkan pendapatan dari sisi wisata. Salah satunya adalah Pulau Apung.
Wisata Pulau Apung berada di lokasi Mutiara Pulau Tabuhan (PTP Pasewaran). Ketika saya berkunjung ke sana tidak terlalu ramai pengunjungnya. Fasilitas pendukung yang ada antara lain berupa toilet umum, warung/kios makan, serta penginapan.
Peresmian Pulau Apung sebagai salah satu objek wisata di Banyuwangi dimulai pada tahun 2014. Wisata ini mengandalkan rumah apung yang berjarak kurang lebih 500m dari bibir pantai. Rumah apung tersebut berisi beberapa sekat untuk pembudidayaan ikan. Selain itu terdapat fasilitas boat untuk menuju lokasi, toilet, dan hamock di lokasi.
Apabila hanya ingin bermain ombak tempat ini juga menyediakan banana boat dengan tarif Rp. 150.000,-/lima orang. Memacu adrenalin dengan jet ski bisa dilakukan dengan tarif Rp. 150.000,-. Jika ingin bersantai di pinggir pantai tersedia persewaan tikar seharga Rp. 10.000,-.  

Perlu diingat jangan terlalu malam untuk mencapai wisata Rumah Apung Bangsring karena loket masuk hanya buka sd. Pukul 17.00 WIB.

Sunday, 23 July 2017

Rumah Kue Dan Oleh-Oleh Nebula, Yang Wajib Dikunjungi Di Banyuwangi

Siapa sih, yang gak kenal dengan jajanan Bagiak? Ya, Bagiak adalah jajanan khas Banyuwangi yang biasa menjadi buah tangan. Bagiak berbentuk gilig dengan panjang kurang lebih lima centimeter. Dengan tekstur yang keras namun lumer ketika sudah masuk mulut menjadikannya nikmat dinikmati di waktu senggang.
Bagiak terdiri dari aneka rasa antara lain rasa original, keju dan jahe. Nah, bagiak keju inilah yang menjadi favorit saya. Dari sekian banyak bagiak yang sering saya konsumsi, hanya bagiak keju produksi rumah kue dan oleh-oleh Nebula yang paling pas sesuai dengan selera saya.
Rumah Kue dan Oleh-Oleh Nebula berlokasi di Jl. Wahid Hasyim 20 Banyuwangi. Lumayan dekat dengan kantor Perhutani KPH Banyuwangi. Untuk bisa memborong oleh-oleh dan camilan favorit sebaiknya datang sebelum pukul 17.00 WIB. Karena tempat ini tutup di malam hari.
Dilihat dari bangunannya memang tidak besar, dan tampak seperti rumah biasa. Karena memang jajanan yang disajikan adalah produksi rumahan. Produk unggulan dari Nebula adalah bagiak keju dan cheese stick (Ladrang Keju). Selain itu terdapat pula jajanan lain seperti aneka kue kering dan sambal ikan pedo yang siap saji.
Harga bagiak keju maupun cheese stick (ladrang keju) berkisar di bawah Rp. 20.000,-. Harga yang cukup terjangkau bukan? Bagiak keju dan cheese stick sudah terkemas rapi sehingga kita bisa segera membagikan kepada orang tersayang. Cheese stick dikemas dengan berat 200gr, sedangkan bagiak keju dikemas sekitar 500gr.

Cheese stick Nebula tidak kalah populer dari bagiak keju buatannya. Hal ini wajar, karena cheese stick keju Nebula adalah cheese stick dengan rasa keju yang menggigit dan tekstur renyah (empuk). Sekali mengkonsumsinya, saya jamin pasti ketagihan...

Saturday, 22 July 2017

Kafe Ramah Anak di Kota Madiun

Sebagai mahmud alias mamah muda (cieeee....) saya juga ingin tetap mendapatkan me time alias waktu rehat. Namun ada kalanya me time tidak bisa dilakukan sendirian dan harus tetap mengajak si kecil.
Sekarang saya tidak perlu khawatir, karena ada sebuah cafe yang ramah anak di kota Madiun. M cafe namanya. Lokasinya berada di Plaza Madiun lantai dua, bersebelahan dengan Maju Hardware. Untuk orang asli Madiun atau yang sedang tinggal di Madiun pasti tidak sulit menemukan lokasi ini. Plaza Madiun terletak di Jl. Pahlawan. Kurang lebih 500m ke arah Selatan dari Stasiun Kereta Api Madiun.
M Cafe adalah sebuah cafe yang menyediakan arena bermain untuk anak. Arena bermain tersebut terdiri dari prosotan, ayunan, dan rumah-rumahan yang semuanya dari bahan plastik. Arena bermain terletak di pojok sehingga relatif aman. Selain di pojok, letaknya juga hanya berjarak 3 meter dari meja kursi pengunjung. Sehingga saya bisa memilih tempat duduk yang paling dekat dengan arena bermain.
Alasan berikutnya kenapa saya memilih M Cafe adalah menunya yang beragam baik dari makanan maupun minumannya. Menu favorit saya dan suami adalah french fries dan milkshake dan kopi. Selain itu tersedia pula wifi gratis dan beberapa spot yang instragamable.
M cafe buka mulai siang hingga malam hari. Pengunjungnya pun terdiri dari beragam kalangan. Namun memang mayoritas pengunjungnya adalah keluarga. Tidak jarang datang pula kelompok pelajar/mahasiswa yang mengerjakan tugas mereka.
Kursi dan meja yang disediakan beragam. Ada yang berupa sofa, ada pula meja kursi kayu dengan view Jalan Pahlawan. Bisa dipilih sesuai dengan keinginan pengunjung.

Tidak salah, bukan? Jika M Cafe menjadi langganan saya dan keluarga.

Sensasi Bercengkerama Dengan Pesawat Sesungguhnya (Desember 2016)

Salah satu alat transportasi yang mewah kita kenal dengan pesawat. Dengan badan yang besar dan kecepatan yang sangat super membuat pesawat dapat menempuh perjalanannya dalam waktu singkat. Hal itu yang menjadikan harga tiket pesawat tergolong mahal dan menjadikannya alat transportasi yang eksklusif.
Pesawat dikemudikan oleh pilot dan dibantu pramugari dan pramugara yang akan melayani penumpangnya. Pilot juga terbagi sesuai jenis pesawat yang dikemudikannya. Ada pilot pesawat penumpang dan juga pilot pesawat tempur. Pilot tersebut mengenakan seragam yang berbeda sesuai pesawatnya.
Tidak bisa dipungkiri banyak anak kecil yang senang dengan keberadaannya ketika di angkasa. Dengan adanya keberadaan Museum Dirgantara menjadi salah satu lokasi pembelajaran bagi anak-anak.
Museum Dirgantara adalah sebuah museum milik TNI AU yang berlokasi di Yogyakarta. Museum ini  terletak di dalam kompleks TNI AU, lebih tepatnya di Blok O Yogyakarta. Museum Dirgantara terbuka untuk umum, sehingga banyak wisatawan yang mengunjunginya. Baik wisatawan pribadi (keluarga) maupun rombongan.
Pada pintu gerbang memasuki lokasi museum, wisatawan diharuskan berhenti dan lapor kepada penjaga. Ada kalanya KTP harus ditinggal di pos jaga dan bisa diambil pada saat meniggalkan lokasi Museum.
Memasuki area parkir, wisatawan dibuat berdecak kagum dengan keberadaan beberapa pesawat. Bukan miniatur pesawat tapi pesawat sungguhan yang sudah tidak beroperasi lagi. Wisatawan diijinkan untuk berfoto namun tidak diperkenankan untuk masuk ke pesawat.
Memasuki gedung museum, wisatawan diharuskan membayar tiket masuk sebesar Rp. 4.000,- (Bulan Desember 2016). Bagian depan museum adalah patung penerbang dan  burung garuda dengan semboyan ‘swa buwana paksa’. Rute selanjutnya adalah belok kiri dan akan ditemui macam-macam tanda pangkat TNI AU.
Setelah itu wisatawan akan memasuki ruangan Pahlawan dan Seragam TNI AU. Berbagai seragam sesuai keadaan ditampilkan di ruangan ini. Baik untuk TNI pria maupun wanita. Ruangan selanjutnya adalah koleksi Kasau dan Kotama. Dan ruangan berikutnya adalah Alutsista. Di ruangan ini pesawat yang sudah tidak beroperasi berjejer dengan rapi. Berbeda dengan pesawat di area parkir, pesawat di area ini bisa dimasuki oleh pengunjung.
Rute selanjutnya adalah diorama yang mengarah ke pintu keluar. Di penghujung pintu keluar terdapat sebuah etalase yang menyediakan oleh-oleh bertemakan TNI AU.

Nah, tidak perlu khawatir pengap dan panas selama di dalam museum. Mulai dari pintu masuk sampai dengan pintu keluar terdapat Air Conditioner (AC) di masing-masing ruangan. Jadi, segeralah berkunjung ke Museum Dirgantara.

Cokelat Monggo (Desember 2016)

Sebagai warga Yogyakarta saya penasaran mengenai cokelat yang satu ini. Sebelum menikah saya pernah mencoba cokelat yang pada saat itu saya peroleh di toko Mirota Batik Malioboro. Hemm, cokelat yang enak dan eksklusif bagi saya. Eksklusif karena memang hanya ditemukan di toko tertentu saja.
Kini, saya baru mengetahui bahwa cokelat tersebut diproduksi di Yogyakarta. Yaelah, kemana aja saya sampai tidak mengetahui hal ini?
Cokelat Monggo, nama cokelat yang dari tadi saya ceritakan. Diproduksi di Purbayan, Kotagede. Tepatnya di Jl. Dalem KG III/978, RT.043/RW.10 Kotagede Yogyakarta. Lokasi yang dekat dari rumah uti di Tamansiswa. Sungguh besar keinginan saya untuk mengunjungi rumah produksinya ketika libur akhir tahun ini.

Jika menggunakan kendaraan pribadi akan lebih mudah mencapainya. Lokasi ini terletak di Selatan Pasar Kotagede dan Makam raja mataram. Nantinya ada petunjuk jalan menuju arah Cokelat Monggo. Jika menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan taksi atau becak. Bisa juga menggunakan bus trans Jogja jalur 2A atau 2B namun hanya sampai di timur Tom Silver (perusahaan perak). Perjalanan harus dilanjutkan menggunakan becak/ojek/andong.
Senin, 26 Desember 2016 saya mengunjungi Cokelat Monggo. Kesan asri dan ‘Jogja banget’ sangat terasa begitu memasuki area parkir. Sambutan ‘monggo’ kami terima dari salah seorang pramuniaga toko sambil mengacungkan ibu jarinya. Masuk ke dalam toko langsung bisa ditemui showroom dari produk monggo.  
Sebenarnya pengunjung bisa melihat proses pembuatan Cokelat Monggo di pabrik ketika beroperasi. Meskipun hanya diperbolehkan melihat dari luar kaca, namun semua proses produksi cokelat bisa terlihat jelas. Hanya saja pengunjung harus menyesuaikan dengan jam operasional pabrik yaitu Hari Senin hingga Jumat pukul 08.00-17.00 WIB, dan Hari Sabtu pukul 09.00-14.00 WIB. Bagi yang ingin mengadakan tour group bisa menghubungi public relation Cokelat Monggo jauh hari sebelumnya.
Showroom Monggo beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00-18.00 WIB. Selain showroom, Cokelat Monggo tersedia di official stores di beberapa tempat, yaitu :
- Jl. Tirtodipuran No. 10, Mantrijeron. Buka setiap hari pukul 08.00-22.00 WIB
 - Bandara Adisucipto, terminal A dan B (departure). Buka setiap hari pukul 05.00-22.00 WIB
 -  Amplaz (Ambarukmo Plaza) Ground floor. Buka setiap hari pukul 10.00-22.00 WIB
Untuk mengetahui cita rasa Cokelat Monggo, ada tester yang bisa dicicipi. Asllan lebih suka dark cokelat 58%. Sedangkan saya dan ayah lebih memilih dark cokelat 77%. Meskipun lebih pahit namun anti oksidannya lebih tinggi.
Banyak sekali varian Cokelat Monggo. Mulai dari cokelat batang 40 gram, cokelat papan 80gr, cokelat oleh-oleh 100gr, pralline, hingga cokelat unik berbentuk stupa atau sepatu. Tentu saja dengan macam-macam rasa dan harga yang berbeda pada masing-masing variannya. Varian terlengkap tersedia di showroom Kotagede.
Selesai membayar, kami masih bermain di area pabrik dan showroom cokelat monggo. Pada teras showroom terdapat kursi kayu dengan model klasik yang mengundang kami untuk istirahat sejenak. Kursi ini diletakkan di samping gilingan cokelat dan rangkaian foto yang berisi informasi tentang produksi cokelat. Selain itu terdapat pula buku tamu yang bisa diisi dengan kesan dan pesan terhadap Cokelat Monggo.

Area parkir yang asri menjadi tujuan kami selanjutnya. Terdapat kursi yang terbuat dari kayu dengan dilengkapi roda andong yang menjadikannya unik. Bisa untuk rehat sekaligus selfie tentu saja.
Kemudian ada juga gasebo dan kursi kayu yang lebih lebar dengan gambar kepala petruk sebagai latar belakangnya. Selain kursi dengan aksen kuno dan klasik, adapula kursi dan meja modern di bawah payung lipat.
Selain tempat untuk rehat, terdapat pula beberapa mainan jawa yang boleh digunakan di area cokelat monggo. Ayah mencoba bermain egrang sedangkan asllan bermain kuda lumping dan seruling kicauan burung. Ada pula bakiak namun tidak kami mainkan.
Tersedia pula air putih di kendi yang tentu saja menjadikannya segar. Dingin namun tidak seperti air yang berasal dari kulkas. Jangan khawatir, kita bisa menggunakan gelas yang tersedia apabila tidak bisa minum langsung dari kendi.
Sebagai sarana pembersihan, tersedia keran untuk cuci tangan di antara kendi dan mainan. Siapa saja bisa cuci tangan terutama setelah bermain atau setelah belepotan mencicipi kelezatan Cokelat Monggo. Tidak perlu takut kotor lagi.
Ada satu titik selfie yang menarik perhatian pengunjung. Lokasi ini berada di samping gerbang. Apa yang membuat menarik? Tentu saja keberadaan sebuah vespa tua berwarna pink. Ya, vespa pink ini yang menjadi saksi bisu sejarah perjalanan Cokelat Monggo.
Pada awal berdirinya, Cokelat Monggo memang memiliki cerita tersendiri. Thierry Detournay adalah pemilik Cokelat Monggo yang berkebangsaan Belgia. Dengan kemampuannya membuat cokelat maka dibuatlah cokelat praline dengan cita rasa Belgia. Banyak yang menyukai cokelat buatan Thierry hingga akhirnya beliau memutuskan untuk menjualnya.
Cokelat buatannya belum memiliki merk saat itu. Beliau menjual di seputaran UGM dalam kegiatan sunmor (Sunday morning). Untuk menarik pengunjung dipakailah vespa yang dicat warna pink sehingga terlihat menyolok diantara ramainya pengunjung sunmor.
Melihat ramainya antusias pengunjung, Thierry beserta dua orang temannya mendirikan CV Anugerah Mulia Indobel. Pada awalnya mereka memproduksi cokelat dengan merk Cacaomania namun kurang mendapat respon. Hingga akhirnya tercetuslah kata ‘Monggo’ yang menjadi merk cokelat produksinya. Merk tersebutlah yang menjadi daya tarik pengunjung.

Ya, Cokelat Monggo memang semakin terkenal. Menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Yogyakarta. Monggo, mampir!