Wednesday, 30 May 2018

Hilangnya Jenggo


Sebenarnya saya agak kesulitan ketika nulis kisah ini. Saya belum siap mengutarakan statement bahwa Jenggo telah hilang. Hingga saya menuliskan ini, saya masih berharap Jenggo pulang ke rumah ini lagi.
Jenggo alias Nggo adalah kucing kesayangan keluarga kami. Kami mendapatkannya karena dikasih oleh tetangga kami. Kebetulan suami dan Asllan yang menerimanya. Saat itu tanggal 21 Maret 2016. Pulang kerja, saya kaget karena disambut oleh suara “meong” seekor kucing kecil. Tapi seneng juga, ketika tau bahwa kucing itu adalah pemberian tetangga. Kami beri nama Jenggo.
Saat kami terima, Jenggo berusia kurang lebih satu setengah bulan. Dia datang dengan tubuh kurus dan telinga sebelah kanan kotor berisi pasir. Kami bersihkan perlahan. Kami memberinya makanan berupa ayam rebus, ikan pindang dan nasi.
Selang seminggu Jenggo mulai mencret, lemas dan sempoyongan ketika jalan. Waduh! Paniklah kami. Pulang kerja saya dan suami segera membawa Jenggo ke drh Lailatun. Disana Jenggo diperiksa dan diberi obat. Tiga hari kemudian, Jenggo sudah sehat seperti sedia kala.
Perlahan kami alihkan dia dengan makanan dryfood (DF). Awalnya Jenggo menghindar dan lebih memilih tidak makan. Tapi memasuki hari ketiga dia mulai makan DF-nya hingga dia mulai terbiasa dengan makan DF.
Jenggo adalah kucing yang baik dan setia. Seminggu sebelum saya mendapat undangan pelantikan di Malang, Jenggo tiba-tiba menjilati ibu jari kaki kanan saya. Ketika saya harus berangkat dan mulai pindah kerja di Malang, Jenggolah penghibur Asllan dan Ayah di Madiun.
Jenggo selalu BAK dan BAB di pasir yang telah kami sediakan. Dia sering mengajak mainan Asllan dan Ayah. Bahkan ketika Asllan tiba-tiba menangis keras dalam tidurnya, Jenggo datang tergopoh-gopoh dan mengelilingi Asllan sambil mengeong. Seakan dia memberitahu saya bahwa Asllan menangis. Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali saja tapi selalu terjadi ketika Asllan menangis.
Satu minggu sebelum hari lebaran tahun 2016, kami kedatangan seekor kucing betina berwarna calico seumuran Jenggo. Sepertinya Jenggo senang mendapat teman. Kucing itu diajaknya bermain dan makan bersama-sama. Ketika saya memberi makan untuk Jenggo, dia malah terdiam. Dan mempersilakan kucing betina itu untuk makan terlebih dahulu. Ketika temannya telah selesai  makan barulah Jenggo makan sisa temannya itu.
Tibalah saat lebaran tahun 2016. Kami menitipkan Jenggo di klinik hewan karena kami mudik ke Jogja. Namun teman Jenggo tidak ikut dititipkan karena kami tidak tahu pasti siapa pemiliknya. Pulang dari mudik tahun 2016 kami mengambil Jenggo. Dia terlihat senang dan kangen dengan kami. Seminggu di penitipan Jenggo terlihat tambah gemuk karena selalu masuk kandang dan jarang bermain. Sampai di rumah ternyata dia mencari temannya itu. Dia mengeong kesana kemari, gelisah dari pintu depan ke pintu belakang. Akhirnya saya bisikkan ke telinganya bahwa temannya sudah pulang ke rumahnya. Baru setelah itu dia terdiam.
Melihat itu, saya merasa kasihan. Sepertinya dia butuh teman. Dan tak lama kemudian suami menemukan seekor anak kucing yang terkena lem. Suami membawanya pulang dan merawatnya. Kami beri nama Loreng (yang nantinya berubah nama menjadi Toteng).
Jenggo terlihat senang dengan keberadaan loreng. Dia sering mengajak Loreng bermain bersama. Hingga akhirnya tibalah saat Jenggo birahi. Dia selalu dikejar kucing mix milik Pak Agung. Selain itu kucing liar berwarna hitam juga sering menunggu Jenggo keluar rumah. Cieee...apa mungkin Jenggo menjadi primadona di mata kucing-kucing itu, ya?
Saya mulai khawatir apabila Jenggo hamil. Saya ingin mensterilkan Jenggo namun dilarang oleh suami. Dengan alasan ingin Jenggo melewati kodratnya sebagai kucing betina untuk hamil dan melahirkan. Benar saja, pada tanggal 8 Oktober 2016 Jenggo melahirkan tiga ekor anaknya. Tempat yang dipilihnya untuk melahirkan adalah kardus di Gudang.
Proses itu terjadi di Hari Sabtu. Saya, Asllan dan Ayah akan berangkat jalan-jalan. Jenggo terlihat gelisah hilir mudik mengelilingi kami. Saya bisikkan ke telinganya “kalo mau lahiran, lahiran aja. Jenggo kucing yang pintar. Nanti kami pulang sudah bisa lihat anak-anakmu.”
Benar saja. Ketika kami pulang dan sampai di rumah, Jenggo mengeong-ngeong seolah-olah mengajak kami untuk mengikutinya. Dan ternyata di wilayah anus dan pantatnya masih terlihat berdarah. Jenggo sudah melahirkan!
Jenggo mengggiring kami ke gudang. Lantas dia meloncat masuk ke kardus bekas almari es. Di sana telah lahir tiga ekor anak Jenggo yang sudah bersih. Kami beri nama Ganang, Telon dan Slewah. Hem, meski belum cukup umur tapi Jenggo adalah kucing yang pintar. Melahirkan sendiri tanpa dibantu siapapun dan anak-anaknya telah bersih.
Ketika mama datang ke Madiun, Jenggo juga berlaku sama. Dia menggiring mama ke gudang untuk menunjukkan anak-anaknya.
Jenggo bisa merawat anak-anaknya dengan baik. Dia susui anak-anaknya secara bergiliran. Dia terlihat sayang dengan anak-anaknya. Hingga akhirnya tiba saat Jenggo mulai birahi lagi. Karena ketakutan akan hamil lagi, akhirnya saya putuskan untuk mensteril Jenggo.
Steril dilakukan di drh Syaiful daerah Jiwan. Hanya berlangsung satu hari saja. Dan Jenggo bisa dibawa pulang meski harus dengan perawatan ekstra karena masih menyusui. Benar saja, selang tiga hari setelah steril, benang jahitan Jenggo lepas karena ditarik Telon ketika menyusu. Dan Jenggo hanya diam saja dengan wajah pucat menahan sakit. Terpaksa kami mengundang dokter Syaiful.
Alhamdulillah, tidak perlu dijahit ulang hanya harus lebih rutin mengganti perban dan memberi betadin. Suami dan Asllan sudah mengikhlaskan jika Jenggo mati karena lepasnya benang operasi. Namun saya belum ikhlas karena saya tahu Jenggo kucing yang kuat.
Benar dugaan saya. Tak lama kemudian Jenggo sembuh total. Dan dia sudah bisa berburu lagi. Seringkali dia pulang membawa cicak dan memanggil anak-anaknya yang sudah mulai bisa makan. Dan ketika anak-anaknya datang, Jenggo hanya melihat dari pinggir. Dia biarkan anak-anaknya bermain atau makan apa yang dia bawa.
Selepas kematian ketiga anaknya, Jenggo terlihat semakin sayang dengan Crimy, Blek, dan Loreng. Dia melakukan hal yang sama ketika anak-anaknya masih hidup. Dia bawa pulang hasil buruannya. Dia memanggil adik-adiknya dan hanya melihat dari pinggir. Jenggo akan makan setelah adik-adiknya kenyang.
Kelebihan Jenggo yang lain adalah dia bisa membuka pintu ruang tamu baik dari dalam maupun luar. Jadi ketika terdengar suara pintu berusaha dibuka, munculah Jenggo masuk rumah atau keluar rumah.
Pada saat mudik Idul Adha tahun 2017 kami tidak menitipkan kucing-kucing kesayangan ke petshop karena jumlahnya sudah tujuh ekor. Sebagai gantinya saya minta tolong kepada penjaga kantor untuk memberi makan sekaligus menjaga rumah kami. Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga kami kembali pulang ke Madiun.
Hingga suatu hari, Jenggo pulang membawa burung perkutut yang masih hidup. Burung itu tidak dimakannya hanya digeletakkan di depan dapur. Burung tersebut dirawat oleh suami. Dan seminggu kemudian turun SK promosi untuk saya. Dua kali sudah Jenggo membawa sinyal untuk perubahan. Entah hanya kebetulan atau memang itu pertanda dari Jenggo.
Satu minggu sebelum kami mudik ke Jogja, Jenggo pulang ke rumah tanpa kalungnya. Memang kalungnya sudah tidak bagus lagi. Tapi sayangnya saya belum sempat membuatkan yang baru.
Hingga tiba saatnya kami untuk mudik di Hari Raya Idul Fitri tahun 2017. Seperti biasa, kami minta tolong kepada penjaga kantor untuk menjaga Jenggo dan Loreng. Dan kami tiba kembali di Madiun pada tanggal 30 Juni 2017.
Cerita sedih dimulai dari sini. Sejak kami kembali ke Madiun, Jenggo tidak pernah terlihat sama sekali. Hanya Loreng yang masih ada di rumah. Kami menganggap Jenggo masih bermain di luar. Hingga kami minta informasi dari tetangga samping rumah dan penjaga  kantor. Mereka mengaku masih melihat Jenggo malam hari sebelum kami sampai di Madiun.
Sedikit perasaan tidak enak menghinggapi saya. Harapan saya adalah nanti malam atau besok pagi Jenggo akan pulang karena lapar. Dan memang kebiasaan Jenggo akan pulang tiap subuh dan langsung minta makan.
Hari kedua kami di Madiun namun Jenggo tak kunjung datang. Akhirnya saya dan suami keliling komplek rumah dan belakang rumah mencarinya. Namun Jenggo tak kunjung terlihat. Agak aneh bagi saya, karena jika Jenggo mendengar suara suami memanggilnya, dia akan berlari pulang. Tapi ini sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
Saya semakin sedih, dan meminta suami untuk mencari di Pasar Joyo (Pasar hewan), siapa tahu ada yang jahat dan menjual Jenggo. Selama dua hari berturut-turut kami berkeliling namun hasilnya nihil. Sampai saat inipun kami tidak tahu di mana keberadaan Jenggo. Masih hidup atau sudah mati. Malah kami mendengar kabar kucing jantan mix milik Pak Agung juga hilang.
Dimanakah kamu, Nggo?
Pulanglah, Nggo...
Ayah, Bunda dan Kak Asllan kangen sama kamu...
Sudah lima bulan kamu pergi, bagaimana kondisimu?
Sehat-sehat ya, Nggo...
Pulanglah...kami menunggumu...

Tuesday, 29 May 2018

Loreng Alias Toteng Alias Hoheng


Loreng ini kucing yang paling awet sejak kecil. Pertama kali ditemukan ayah di Pasar Joyo Madiun pada tanggal 6 Oktober 2016. Pada saat ditemukan, kondisinya nempel di selembar kertas karena pada perut hingga ke alat kelaminnya terkena lem. Posisinya tengkurap dengan suara meongan yang keras. Umurnya kurang lebih satu setengah bulan saat itu. Tanpa pikir panjang, Ayah membawanya ke rumah.
Persoalan berikutnya adalah, bagaimana cara lem ini bisa hilang dari bulu-bulunya? Langkah pertama adalah melepaskan kertas dari tubuhnya. Dengan perlahan yang pastinya tetap sakit, akhirnya terlepaslah kertas tersebut namun masih meninggalkan lem di tubuh mungilnya. Awalnya kami coba menggunakan bensin, namun sepertinya kulitnya masih terlalu muda dan panas. Sempat memerah ketika terkena bensin. Kami hentikan penggunaan bensin. Ayah berfikir keras apalagi bahan yang bisa digunakan untuk menghilangkan lem itu. Pilihan jatuh ke terigu, semua bagian yang terkena lem, diberi terigu oleh Ayah. Dasar pertimbangan menggunakan terigu adalah ketika Loreng menjilati bulunya, terigu relatif aman. Alhamdulillah upaya tersebut berhasil. Setelah satu minggu semua lem telah hilang dari tubuhnya. Tinggal memandikan Loreng agar terlihat cantik.
Setelah mandi, Loreng terlihat lebih bersih dan makin cantik. Namun dia terlihat menjauh dan minder dari kucing yang lain yaitu Blek, Crimy, Jenggo, Ganang, Slewah, dan Telon. Saat yang lain berkumpul untuk bermain, Loreng hanya diam di pojokan tidak ikut bermain. Entah karena masih adaptasi atau karena takut dengan jumlah tuan rumah yang sangat banyak.
Yang jelas, kami tetap merawatnya sama seperti yang lain. Tidak pernah kami membedakan sedikitpun. Pada suatu hari saya menerima berita dari Ayah. Bahwa tidak sengaja Ayah menginjak Loreng sampai dia muntah darah. Bahkan sampai keluar feces dari anusnya. Gerakannya pun sudah di luar kontrol, karena Loreng bergerak mutar2 lalu terdiam di pojokan dengan nafas yang tersengal-sengal. Ayah merasa bersalah dan pasrah tentang nasib Loreng. Tiga hari dia hanya terdiam dan tidak mau makan sama sekali. Namun, Alhamdulillah mulai hari keempat dia mau makan dan akhirnya sembuh normal seperti sedia kala.
Hari terus berganti dan Loreng semakin tumbuh besar. Ada salah satu kebiasaan yang dari semua kucing di rumah, hanya Loreng yang berperilaku seperti ini. Loreng terbiasa cecep-cecep di tangan atau kaki kami (saya, ayah dan Asllan). Cecep-cecep ini adalah Loreng ngempeng sampai tangan dan kaki kami basah. Jika tangan/kaki kami tarik, dia akan menahannya. Cecep-cecep itu dia lakukan setiap menjelang tidur. Dia akan melepaskan tangan/kaki kami setelah basah dan dia terlelap.
Semakin besarnya Loreng, terkadang Asllan memanggilnya dengan Toteng. Saya dan Ayah pun mempunyai julukan Tante Toteng untuknya. Mengingat anak-anak Jenggo memanggilnya Tante (kalau bisa ngomong, lho ya). Dan ternyata muka dari Toteng ini lucu sekali. Bentuk wajahnya bulat, hidungnya tidak terlalu mancung, jadi mukanya tidak lancip. Selain itu saat melihat dengan posisi mengantuk, dia akan melihat sambil mengerjapkan matanya.
Kucing itu pasti mempunyai rasa terima kasih yang akan disampaikan ke orang tertentu. Begitu juga dengan Toteng. Dia sangat dekat dengan Ayah. Saat tidur, dia lebih sering nempel di badan Ayah. Bahkan tas yang digunakan Ayah untuk pergi menjadi salah satu barang favoritnya. Ketika tas Ayah sudah berada di rumah, Toteng akan mencari kemudian menjadikannya alas tidur.
Dan kenapa Toteng bisa kami panggil menjadi “Mbak Oteng” adalah ketika Hyu hadir di rumah. Karena memang usia Hyu lebih muda daripada Toteng.
Sehat terus ya Mbak Oteng...Ayah, Bunda dan Kak Asllan sayang ama Mbak Oteng.

Thursday, 15 March 2018

Bantar, Kucing Kecil Yang Tak Berumur Panjang (29 Januari 2017 – 13 Januari 2017)



Seperti biasa, setiap hari libur kami menyempatkan waktu untuk quality time. Hari minggu tanggal 29 Januari 2017, Asllan mengajak jalan-jalan sebagai pilihan quality time kami. Pilihan jalan-jalan jatuh kepada Taman Bantaran Kota Madiun.
Ketika kami selesai bermain dan hendak pulang, gerimispun datang. Agak terburu-buru kami menuju tempat parkir. Tiba-tiba terdengar tangisan kucing kecil. Pasti kucing kecil yang kedinginan. Saya mengajak Asllan untuk melihat dimana posisi kucing tersebut.
Ternyata di sebuah semak, terdapat seekor kucing kecil yang matanya belum melek. Dia menangis keras mencari induknya, sementara badannya telah sedikit basah. Tak perlu pikir lama, saya lantas membawanya pulang untuk dipiara. Yang jelas, saya berniat menyelamatkannya dari hujan deras yang mulai tiba.
Sampai di rumah, barulah kami menyadari bahwa kucing kecil ini belum membuka mata. Dia masih belajar jalan dengan mata yang masih tertutup. Tinggi telinganya belum melebihi kepalanya. Aduh, masih kecil sekali dia.

Saya dan suami berniat merawatnya. Paling tidak dia tidak kelaparan meski tanpa induknya. Kami memberinya nama Bantar karena ditemukan di Taman Bantaran. Kami tidak punya indukan kucing pada saat ini. Jadi kami memberinya susu dengan media dot. Memang tidak mudah, tapi dalam waktu satu hari saja Bantar sudah pintar menyusu dari dot.
Kami sedikit lega dengan kepintaran Bantar minum susu dari dot. Perutnya tidak pernah kempes. Dia selalu minum susu sampai kenyang kemudian tidur. Namun mulailah timbul masalah. Ternyata dalam usianya yang masih dalam hitungan hari (kurang lebih sepuluh hari), Bantar belum bisa menjilati tubuhnya.
Setiap selesai BAK dan BAB, saya atau suami bergantian membersihkan anus dan sekelilingnya menggunakan tisu kering. Dia tidur di dalam kardus yang kami isi dengan boneka berbulu dan sebotol air hangat. Terkadang kompres plastik berisi air hangat juga kami tambahkan agar semakin hangat. Dia sangat senang tidur di atas kompres tersebut.
Kemudian, tibalah Ayah harus menjemput saya ke Malang. Hanya satu hari saja sebenarnya perjalanan itu. Yang ada di rumah untuk menjaga Asllan dan Bantar adalah kakak ipar saya. Begitu saya dan Ayah tiba kembali di rumah, ternyata Bantar sudah basah kuyub. Jadi bekas BAK dan BAB selama satu hari tidak dikeringkan. Tapi perutnya masih gemuk tanda dia selalu kenyang.
Sayangnya, kejadian itu membuat kondisinya menurun. Meski langsung kami bersihkan saat itu juga. Nafsu minum susunya mulai berkurang. Meski tiap pagi dan siang selalu dijemur, tapi anus dan sekitarnya selalu basah. Hingga pada tanggal 13 Februari 2017 pukul 04.30 WIB kami temukan Bantar sudah mati.
Meski sedih tapi apalagi yang bisa kami lakukan? Kami lantas menguburnya di dekat Crimy dan anak-anak Jenggo.
Bantar...Maafkan kami, yang tidak bisa memeliharamu hingga dewasa.
Tapi setidaknya kamu telah kami makamkan dengan layak.


Sunday, 4 February 2018

Akhirnya...Donat Kentang Juga

Donat kentang, adalah salah satu resep yang membuat saya penasaran. Kenapa? Karena belum pernah berhasil setelah sekian kali percobaan. Dulu, pertama kali bikin hasilnya adalah bantat alias keras. Percobaan berikutnya sudah lumayan empuk tapi tetap saja keras saat sudah dingin. Pernah juga berakhir dengan hasil gosong alias si cincin white ring gak mau nongol. Hingga akhirnya...hari ini berhasil menaklukkannya...Alhamdulillah.
Resep sih gak pernah berubah. Selalu pakai resep Donat Kentang NCC, tapi ya itu tadi, baru berhasil setelah sekian kali percobaan. Asllan dan ayah pun mengakui jika percobaan kali ini “berhasil”...Ini lho resepnya :
Donat Kentang NCC (Fatmah Bahalwan)
40-50 pcs

Bahan :
500 gr terigu protein tinggi
50 gr susu bubuk
11 gr ragi instan
200 gr kentang kukus, haluskan
100 gr gula pasir
75 gr mentega
½ sdt garam
4 kutel
100 ml air dingin

Cara membuat :
  1. Campur terigu, susu bubuk, ragi instan, dan gula. Aduk hingga rata
  2. Tambahkan kentang, kuning telur (masukkan satu persatu), dan air (masukkan sedikit demi sedikit) sambil uleni sampai setengah kalis
  3. Tambahkan mentega dan garam, sambil terus uleni hingga kalis (permukaan adonan halus)
  4. Diamkan selama 30 menit sambil ditutup dengan serbet lembab agar adonan tidak kering (adonan akan mengembang)
  5. Kempiskan adonan, kemudian bagi menjadi bulatan sesuai selera. Bentuk donat dan diamkan 30 menit (tutup dengan serbet lembab)
  6. Goreng dengan api kecil hingga kecoklatan
  7. Angkat dan tiriskan.
  8. Setelah dingin bisa diberi toping sesuai selera

Tips :
  1. Saya menggunakan mikser dengan tangkai spiral untuk menguleni. Kalau harus pakai tangan, ampun deh pegelnya...
  2. Adonan memang sedikit lengket, lumuri tangan dengan terigu ketika membentuk donat
  3. Setelah adonan terbagi menjadi bulatan, segera beri lubang di tengahnya dengan menggunakan dua telunjuk. Ini akan membentuk donat yang tebal (menul-menul)
  4. Pada saat menggoreng, pertahankan bulatan dengan tongkat kayu/bambu. Caranya adalah tongkat tersebut ditegakkan pada lobang selama menggorang satu sisi. Hal ini dilakukan agar bulatan tidak menutup.
  5. Untuk mendapatkan white ring, gunakan minyak goreng secukupnya (hanya setengah donat yang terendam minyak). Dan cukup satu kali balik saja (jangan dibolak balik)
  6. Ini tips yang pasti akan diprotes para bakuler, saya menggorengnya satu persatu. Jadi cukup pakai teflon diameter 18 cm, berisi satu biji donat. (maafkan saya para bakuler...mungkin anda punya tips yang lebih hebat)
  7. Donat ini cepat sekali matangnya, harus ditungguin agar warnanya cantik tidak gosong.

Saturday, 14 October 2017

Saat Kehilanganmu (Crimy)

Masih ingat dengan kisahnya blek di postingan saya sebelumnya? Kali ini saya akan menuliskan tentang Crimy, saudara kandungnya Blek yang saya adopsi. Awal pertemuan dengannya dimulai pada tanggal 4 Agustus 2016 silam.
Setelah blek saya sendirikan untuk persiapan saya bawa pulang, saya menemukan saudara kandungnya blek. Ada empat ekor selain Blek saat itu. Namun selain jatuh cinta pada Blek, saya juga tertarik dengan seekor lagi yang warna bulunya seperti coklat susu namun paling agresif, itulah Crimy.
Sama seperti cerita Blek, bahwa Crimy juga belum mahir minum sendiri. Jadilah Crimy juga minum susu dari dot kucing. Hanya saja crimy tidak terlalu mahir minum dari dot. Banyak susu tumpah dan bisa dipastikan Crimy lebih belepotan. Namun volume susu yang masuk ke perut Crimy pasti lebih banyak daripada yang masuk ke perut Blek.                                            
Semakin hari mereka semakin sehat. Perut juga semakin gembul. Tingkah polah mereka sungguh menghibur kami sekeluarga. Blek mempunyai naluri alami yang lebih bagus daripada Crimy. Crimy lebih penakut, selalu mencari Blek kalau sedikit saja Blek tidak terlihat di dekatnya.
Setelah satu bulan berada di rumah mulailah mereka mandi. Blek dan Crimy jadi semakin ganteng setelah mandi. Siapa yang tidak gemas melihat kegantengan mereka. Banyak orang bilang Crimy itu jantan tapi cantik, sedangkan Blek sangat bagus corak bulunya. Mata biru Crimy menjadikannya unik dan ganteng. Seperti kucing ‘bule’ kalau saya bilang.
Umur tiga bulan, saatnya mereka vaksin setelah minum obat cacing sebelumnya. Namun dari hasil pantauan BAB, Blek agak sedikit lembek. Jadilah Crimy terlebih dahulu yang mendapatkan vaksin pertama.
Dasar Crimy yang lebih manja, dia berontak ketika jarum suntik masuk tubuhnya. Begitu sampai di rumahpun dia cenderung lebih diam. Dan Crimy selalu mendekati Blek. Seakan tahu bahwa adikny habis vaksin, Blek setia menemani Crimy. Blek berbaring di samping Crimy dan tidak mengajak mainan.
Bisa dikatakan Crimy adalah kucing yang sehat. Aktif dan gesit berlarian serta bermain dengan saudaranya. Satu hal yang paling saya rindukan dari Crimy adalah pose ulat atau kalau saya bilang itu pose ‘ndlosor’. Selama saya memelihara kucing dari sekolah dasar sampai saya sudah memiliki anak baru Crimy yang sering berpose seperti itu. Terkadang setelah bermain mengejar cicak atau bekejaran dengan Blek dengan tiba-tiba dia ndlosor. Wah, saya dan suami lansung terbahak-bahak mellihat tingkahnya.
Crimy tergolong kucing yang mendapatkan vaksin tepat waktu. Setelah mendapat vaksin yang pertama, Crimy mendapatkan vaksin kedua selang satu bulan kemudian. Setiap hari sangat terlihat pertumbuhan Crimy yang semakin semok. Bagaimana tidak berat badan Crimy sudah 4 kg ketika mendapat vaksin keduanya.
Setelah Blek mati tanggal 5 Januari 2017, saya menjadi lebih protektif terhadap Crimy. Saya rutinkan pemberian vitamin kepadanya. Saya larang Crimy keluar rumah. Saya ingin Crimy panjang umur karena dengan melihat Crimy saya selalu ingat Blek.
Saya gak tau, apa memang kebetulan atau karena saudara kandung atau memang ada fasenya kucing senang bermain di atas motor. Mendiang Blek sangat senang bermain di motor suami. Pada saat itu Crimy hanya melihat dan kalaupun mau naik motor hanya duduk manis di motor saya. Tidak mainan seperti Blek. Namun setelah Blek mati, Crimy mulai naik motor suami untuk pertama kalinya yaitu tanggal 7 Januari 2017. Dua hari setelah kematian Blek, Crimy melakukan hal yang sama. Bagaimana saya tidak meneteskan air mata melihat semua itu? Saya langsung ingat Blek, dan saya juga terharu melihat tingkah polah Crimy yang sama persis seperti Blek.
Crimy main di motor suami tidak sendiri. Dia lebih sering main sama Asllan. Ketika asllan naik di tangki motor suami, Crimy juga ikut naek. Seolah-oleh dibonceng Asllan. Jadi sekarang temannya Crimy adalah loreng, dan Asllan. Karena Jenggo sudah mulai tidak bersemangat untuk mainan (mungkin masih sedih ditinggal mati ketiga anaknya).
Tidak ada yang aneh sebenarnya, hanya saja mulai Bulan Februari 2017 Crimy mulai tidak menghabiskan makanannya. Saya mulai takut apa yang akan terjadi. Saya takut Crimy terkena FIP sama seperti Blek mengingat mereka adalah saudara kandung. Namun, saya tepis semua itu. Saya tidak mau berfikir negatif.
Hingga pada suatu sore selepas sholat Maghrib saya melihat Crimy jalan dengan perlahan namun menabrak pintu. Hey! Sungguh aneh! Apakah Crimy tidak bisa melihat pintu itu? Padahal Crimy sudah hampir enam bulan tinggal bersama kami di rumah ini. Apakah Crimy buta? Tapi apa penyebabnya? Bukankah sampai dengan lima menit yang lalu masih sehat? Tak membuang waktu, saya langsung membawa Crimy ke dokter hewan langganan. Saat itu diagnosanya adalah clamydia. Saya pastikan bertanya kepada dokter apakah Crimy juga terkena FIP, dan jawaban dari dokter adalah ‘tidak’.
Satu minggu telah berlalu, namun kondisi Crimy tetap tidak ada perubahan. Bahkan yang terlihat adalah bola mata Crimy seperti selalu melotot dengan pupil mata yang membesar seperti saat  melihat gelap, namun ini terlalu lebar. Jika pupil matanya kembali normal, Crimy bisa melihat lagi dengan normal. Saya mencoba konsultasi dengan dokter hewan yang lain yaitu teman SMA saya. Dari beliau saya mendapat info bisa juga Crimy terkena FIP mengingat Crimy adalah saudara kandung Blek. Saya ingin tepis kemungkinan tersebut.
Saya berusaha maksimal membawa Crimy kontrol ketika obatnya habis. Dan dokter mulai curiga akan kemungkinan FIP. Saya pun lemas mendengar kata-kata dokter. Saya dan suami memutuskan untuk merawat Crimy di rumah. Dengan semua kasih sayang yang tercurah, kami harap Crimy bisa sembuh.
Namun apa yang saya temui? Ternyata kondisi Crimy semakin menurun. Badannya mulai terlihat kurus meski suami telah merutinkan vitamin untuknya. Bahkan semakin lama Crimy seperti tidak mau makan makanan keringnya sama sekali. Saya memberi ide kepada suami untuk mengganti makanan Crimy dengan ayam kukus. Pada awalnya Crimy mau lahap, namun itu hanya bertahan tiga hari saja. Selebihnya ayam kukus tersebut tidak disentuhnya sama sekali.
Tak kurang akal akhirnya suami memberi makan wetfood cincang dengan harapan dapat mengembalikan nafsu makannya Crimy. Namun ternyata sama saja, bahkan lebih parahnya hanya satu kali saja Crimy mau mencicipnya. Yang terakhir adalah suami memberi wetfood Royal Canin yang recovery. Memang ada sedikit kemajuan. Crimy mau menghampiri piring makannya. Lumayan lega saya saat itu.  Meski mata biru Crimy telah memudar, namun nafsu makan Crimy terhadap recovery bertahan lebih dari tiga hari.
Bulan Maret 2017 saya akhirnya mendapatkan SK mutasi kembali ke kota Madiun lagi. Betapa bahagianya saya, bisa kembali mendampingi suami dan anak dan bisa melihat perkembangan anabul terutama Crimy.
Ya Allah, sungguh saya gak tega melihat kondisi Crimy saat ini. Semakin terlihat kurus, dekil dan lemah. Sangat jauh berbeda dari Crimy yang dulu pernah membuat saya kagum. Saya selalu meneteskan air mata ketika melihat Crimy. Saya belai dia dan saya sampaikan bahwa saya dan keluarga sayang dan sangat sayang padanya. Saya ingin dia sembuh.
Namun ternyata memasuki Bulan April 2017, Crimy mulai tidak menyentuh recovery-nya. Terpaksa suami saya memasukkan makanannya melalui spuit. Begitu terus dalam tiap kali makannya. Meski gak tega tapi itu yang terbaik daripada tidak ada nutrisi yang masuk sama sekali ke perutnya. Sedih memang! Bahkan sangat sedih!
Hingga akhirnya mulai tanggal 19 April 2017 Crimy tidak mau makan sama sekali. Meski sudah melalui spuit namun sepertinya Crimy sudah tidak bisa menelannya. Semua makanan yang sudah masuk ke mulutnya perlahan-lahan keluar kembali. Meski begitu parahnya kondisi Crimy namun perut Crimy biasa saja bahkan cenderung cekung karena kurang nutrisi. Tidak seperti Blek yang mati dengan perut besar penuh cairan. Mungkin tipe FIP yang diderita Crimy adalah FIP kering.
Sepanjang mulai makan dengan menggunakan spuit Crimy tidak mau masuk ke ruang keluarga. Dia hanya berdiam diri di lorong jemuran. Makan, minum, dan tidur dia lakukan di tempat itu. Hanya buang air kecil dan besar masih bisa dilakukannya di litter box. Feses dan air kencing Crimy adalah normal.
Hingga tibalah hari tersebut yaitu tanggal 21 April 2017. Pulang kerja saya temui Crimy di lorong. Saya sapa dia, dan dia hanya diam saja tidak menjawab. Namun terlihat jelas bahwa mata crimy sudah mulai muncul selaputnya.
Saya kembali ke ruang keluarga bersama suami, dan Asllan serta loreng. Tak lama berselang kurang lebih setengah jam kemudian Crimy mengeong. Kami bengong karena sejak sakit suara itu tidak pernah terdengar lagi. Kami bertiga berbondong-bondong ke lorong untuk melihat Crimy.
Begitu sampai di lorong kami tercengang karena Crimy mengeong dengan sering dan sangat gelisah kesana kemari. Crimy berbelit di kaki saya, suami dan juga Asllan. Kami bingung karena tidak tahu apa yang membuatnya gelisah. Saya elus Crimy namun selalu berpindah ke suami dan Asllan bergantian, pokoknya mengelilingi kami bertiga. Hingga akhirnya terjadi perubahan suara Crimy menjadi lebih besar dan lebih berat, dan gerakan yang semakin tidak beraturan. Hingga Crimy menabrak suami, menabrak dinding, dan saat inilah kami sadar bahwa Crimy sedang sakratul maut. Air mata saya terjun bebas tak terbendung. Asllan terdiam bengong sambil memeluk saya untuk menenangkan saya. Suami berusaha memegang Crimy untuk mengelus dengan maksud bisa mengurangi rasa sakitnya. Namun Crimy berontak dan tidak mau dipegang. Hingga akhirnya suami menyuruh saya untuk mengikhlaskan Crimy. Asllan juga diperintah berdoa untuk Crimy. Selama Asllan membaca Al-Fatihah, saya berusaha berdamai dengan hati untuk bisa mengikhlaskan Crimy. Saya sampaikan ke Crimy bahwa saya dan keluarga sangat sayang Crimy. Kami berterima kasih padanya karena dengan kehadiran Crimy membuat hiburan yang berbeda dalam keluarga kami. Saya minta maaf kepada Crimy atas semua kekurangan sehingga tidak bisa merawatnya lebih lama. Tepat setelah Asllan selesai membaca Al Fatihah, Crimy bersuara panjang dan kejang. Hingga akhirnya dia jatuh mepet dinding sebelah utara. Perlahan namun pasti nafasnya menghilang. Dan Crimy telah pergi disaksikan kami sekeluarga pada pukul 19.45 WIB.
Keesokannya suami menguburkan Crimy dekat dekat ketiga anak jenggo. Kuburan mereka masih berada di daerah latihan trail Bengawan Madiun.
Selamat jalan Crimy alias Crimo (panggilan sayang dari Bunda) alias Ketipo (panggilan sayang dari Kak Asllan)
Kamu adalah kucing jantan yang ganteng sekaligus cantik...
Dengan semua keunikanmu membuat kami menyayangimu...
Maafkan kami tidak bisa memeliharamu lebih lama lagi...
Bermainlah bersama kakak Blek...

We luv u Crimy..


Saturday, 30 September 2017

Bersantai Di Taman Trembesi Madiun

Hari libur kali ini Asllan minta jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Sempat terlintas di benak saya akan mengajak Asllan ke daerah Ponorogo. Namun niatan tersebut ditolak suami karena tidak ada persiapan yang matang.
Untung saja saya ingat pembicaraan teman-teman di kantor bahwa di belakang kantor telah dibuka taman baru. Dan ketika saya sampaikan ke suami maupun Asllan mereka setuju.
Hanya berjarak 700 meter dari rumah tibalah kami ke tempat tersebut. Taman Trembesi namanya. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 3.000,-/orang kami langsung menuju tempat duduk yang dekat dengan stand karyawati kantor.
Taman Trembesi ini sebetulnya adalah TPK (Tempat Penimbunan Kayu) milik Perum Perhutani KPH Madiun. Saat ini menjadi optimalisasi asset bagi KPH Madiun, maka dibentuklah Taman Trembesi. Disebut Taman Trembesi karena pohon peneduhnya adalah Pohon Trembesi.
Wahana yang disajikan antara lain panahan dan arena tembak serta ATV. Tidak terlalu beragam memang, karena Taman Trembesi mempunyai daya tarik lain. Ayunan, meja kursi, spot selfi dan juga area api unggun mini sebagian besar terbuat dari kayu. Yang menjadi favorit kami adalah ketika daun trembesi gugur tertiup angin. Wah, sangat indah jika dijadikan latar untuk berfoto. Hal unik lain yang kami temui di tempat ini adalah meja kursi ayunan. Jadi ayunan ini sebaiknya dipakai untuk dua orang agar seimbang.
Tak lama bersantai, kami merasa lapar. Ini saatnya kami menuju stand kuliner. Warung yang tersedia semua dikelola oleh karyawan Perhutani. Terdapat sekitar enam stand yang menyediakan aneka makanan dan minuman.  Pilihan saya dan Asllan jatuh pada donat kentang, pentol goreng, serta lumpia. Untuk minumnya kami memilih milkshake cokelat.

Dari semua wahana yang ada hanya ATV yang dinaiki Asllan dan Ayahnya. Selebihnya kami lebih memilih duduk bersantai sambil menikmati snack yang telah kami pilih. Bisa dikatakan tempat ini layak menjadi pilihan bersantai di tengah kota Madiun.

Jangan Hanya Menyuruh

‘Anak adalah peniru ulung bukan pendengar yang baik’
Kalimat itu sering saya baca bahkan saya dengar. Dan saya akui kebenaran kalimat tersebut.
Asllan memang tidak terlalu suka dengan bermain air di waterpark atau kolam renang. Bermain air yang dia suka hanyalah ombak di pantai. Bisa dipastikan susahnya membujuk Asllan untuk mau ikut kegiatan berenang yang akan menjadi kegiatan di sekolahnya. Membujuk dengan rayuan, bahkan sampai kami jelaskan manfaat dan pentingnya berenang tetap tidak membuatnya bergeming. Tidak hanya satu kali, berkali-kali kami harus membujuknya ketika ada kegiatan berenang. Apakah berhasil? Jawabnya adalah ‘tidak’
Kalaupun Asllan mau ikut kegiatan tersebut, dia hanya bermain di pinggir kolam renang. Atau bahkan tidak mau masuk ke kolam sama sekali. Sekalinya mau masuk, pasti mimik mukanya cemberut bahkan bisa jadi dia menangis.
Saya dan suami berusaha keras mencari cara bagaimana Asllan mau berenang. Paling tidak  mau untuk masuk ke kolam renang dengan semangat dan ceria. Keinginan kami ini tidak terlalu berlebihan, bukan?
Akhirnya satu minggu sebelum pelaksanaan berenang dari sekolah, kami bertiga mencuri start untuk ‘berkenalan’ dengan lokasi yang akan digunakan. Kami beritahu Asllan bahwa agenda kami adalah berenang. Kami janjikan selalu mendampingi Asllan di kolam renang. Tidak lupa kami libatkan Asllan sejak persiapan keberangkatan. Perlengkapan masing-masing sudah siap. Mulai baju ganti, alat mandi dan bekal sudah tertata rapi. Point yang kami tekankan di sini adalah Asllan melihat bukti nyata bahwa Ayah dan Bundanya juga membawa perlengkapan yang dibutuhkan.
Selama dalam perjalanan menuju lokasi, Asllan terlihat ragu-ragu. Ada terbersit ketakutan pada mimik mukanya. Tak bosan kami menyakinkan Asllan bahwa kami akan ikut masuk ke kolam renang.
Tidak mudah membuat Asllan mau masuk kolam begitu saja. Asllan masih minta gandeng Ayahnya ketika menuju kolam. Begitu juga ketika Ayahnya sudah masuk ke kolam, Asllan masih duduk manis di tepi kolam. Perlahan – lahan Ayah pancing Asllan agar mau masuk ke kolam. Berbagai macam cara yang dilakukan Ayah. Mulai dari pura-pura tidak tahu bahwa ada lobang tempat masuknya air sampai lomba mengambil daun yang jatuh ke kolam. Akhirnya Asllan mau masuk ke kolam dan mulai berani jalan di air yang hanya setinggi lututnya saja.
Momen bahagia bagi saya adalah ketika Asllan dengan percaya diri mengajarkan saya apa yang baru saja dia lakukan bersama Ayahnya. Dia menunjukkan di mana letak lubang saluran air. Dia mengajarkan saya bahwa daun yang jatuh ke kolam harus diambil agar kolam kembali bersih. Dia melakukan semua itu dengan semangat. Di sini peran yang harus saya lakukan adalah pura-pura tidak faham tentang semua itu. Hal itu membuat Asllan akan menjelaskan dan mempraktekkan dengan semangat apa yang dia ketahui.
Di sinilah saya akui kebenaran kalimat di awal tulisan tadi. Saya itu takut air, saya tidak bisa berenang. Dan harus saya akui bahwa ketika masuk pertama ke kolam renang saya sangat deg-degan. Tentu saja hal itu saya sembunyikan dari Asllan. Dan tetap saya lakukan demi memberi contoh untuk Asllan.
Yang membuat saya sangat bahagia adalah Asllan tidak mau diajak pulang. Dia juga mengatakan “berenang itu enak, Bunda. Asllan tidak mau pulang sekarang. Mainan air lagi ya, Bun”

Akhirnya....sukses juga rencana yang kami buat agar Asllan berani berenang.