Tuesday, 9 June 2020

Telur Asin Homemade


Hai semuanya….
Pada kenal dengan telur asin, kan? Biasanya telur asin banyak dijual di pasar-pasar tradisional, lapak lauk pauk bahkan supermarket. Nah, ngomongin tentang telur asin saya jadi ingat masa kecil dulu.

Kelas 4 SD ada pelajaran PKK yang salah satu tugasnya adalah membuat telur asin. Pada saat itu cara membuatnya adalah dibungkus dengan batu bata dan garam yang telah dihaluskan. Kemudian didiamkan selama kurang lebih 2 minggu.

Nah, dari satu kelas yang berisi 40 siswa, hanya saya dan dua orang teman yang berhasil mendapatkan nilai 8. Kebetulan adonan batu bata masih membungkus telur dengan rapi hingga batas waktu dua minggu tersebut.

Kalo ingat masa-masa itu, ada keinginan yang muncul untuk membuat telur asin. Tapi ketika harus mencari batu bata, semangat langsung menguap entah kemana. Saya beranggapan di jaman now pasti ada cara yang lebih mudah membuat telur asin.

Akhirnya ketemulah resep sederhana yang hasilnya mantabbbb…..

Resep Telur Asin (resep dari NCC) 


Bahan :
12 butir telur bebek
500 gr garam kasar
1,5 liter air

Cara membuat :
Aduk air dan garam hingga larut
Lalu tuang ke toples (tempat penyimpanan)
Masukkan telur hingga terendam sempurna
Tutup toples hingga 21 hari
Setelah 21 hari, cuci telur dan rebus selama 30 menit

*Tips
Agar telur bisa terendam sempurna, siapkan plastik yang berisi air lalu masukkan ke atas telur. Sehingga telur bisa terendam sempurna

Monday, 8 June 2020

Resep Kulit Pie


Pie buah adalah salah satu snack favorit saya. Hal itu membuat saya penasaran untuk membuat kulit pie. Nah, dengan resep yang satu ini, percobaan pertama langsung berhasil syantik….

Kulit Pie (Budi Lestari)


Bahan :
300 gr terigu sebaguna (protein sedang)
160 gr butter
20 gr gula halus
2 kuning telur

Cara :
Campur terigu dan gula halus. Aduk hingga rata
Tambahkan butter, lalu uleni hingga rata
Tambahkan kuning telur, uleni lagi hingga tercampur rata
Siapkan cetakan pie
Adonan dicetak dalam cetakan, tekan manual dengan jempol
Tusuk bagian dasar dengan garpu
Oven dengan suhu 180°C selama 35 menit

*setelah matang adonan sangat mudah terlepas dari cetakannya

Thursday, 13 June 2019

Ketika Mempunyai Kucing Cantik


Yuk cerita tentang kucing lagi…

Setelah datangnya Won Abon, total kucing yang ada di rumah saya adalah empat ekor. Yaitu Loreng alias Toteng alias Hoheng, Hyu, Be, dan Won Abon. Saya rasa cukup sudah keberadaan mereka di rumah ini. Hyu dan Hoheng sudah anteng di kandangnya masing-masing. Sedangkan Be pasti enggak bisa lepas dari Abon.

Namun pada suatu hari Ayahnya Asllan cerita bahwa ditawarin kucing ras warna putih solid. Tapi kucingnya sudah dewasa bahkan sudah dua kali beranak. Nah, berarti kucing betina dong…perlu biaya lagi untuk sterilnya.

Tawaran ayah tidak langsung saya setujui. Perlu pertimbangan matang untuk memutuskannya. Tapi dalam hati kecil saya ada keinginan besar untuk memiliki kucing ras. Hingga ayah memutuskan untuk mengajak saya melihat kucing itu terlebih dahulu. Setelah melihat maka keputusan ada di tangan saya.

Hingga pada hari minggu, 8 Juli 2018 saya, ayah dan Asllan berkunjung ke pemilik kucing. Begitu melihatnya saya langsung jatuh cinta. Kucing betina warna putih solid dan ekornya berbulu panjang seperti kemoceng. Syantikkkk….

Dan saya langsung menyetujui untuk memelihara kucing itu. Sudah resiko mengeluarkan biaya tambahan jika memeliharanya. Uang itu bisa dicari, namun jatuh cinta pada kucing cantik tidak terbendung lagi.

Ketika sampai di rumah, kucing cantik itu diberi nama “Mpok Ceceng”. Diambil dari kata kemoceng, dan disebut Mpok karena sudah beranak dua kali.
Ceceng ini ternyata tuli, matanya semi odd eyes. Tapi hal itu tidak mengurangi rasa sayang kami kepadanya. Asllan juga sangat senang bermain dengan ekornya.


Ceng…
Sehat-sehat terus ya…
Sekarang kamu tinggal di rumah kami…
Jangan sakit dan jangan hilang ya…
We luv u Ceceng…

Tuesday, 11 June 2019

Sterilnya Abang Hyu (20 Mei 2018)


Satu-satunya kucing ganteng yang ada di rumah sepertinya mulai birahi. Setiap tempat selalu diendus lantas diberinya tanda dengan air seninya. Selain itu suara meongnya berubah jadi besar dan sering. Berisik deh pokoknya.

Awalnya saya dan suami mengira jika kucing jantan tidak perlu disteril. Tapi perkembangan yang seperti ini membuat kami berfikir ulang. Dan kami putuskan agar Hyu disteril.
Pada tanggal 20 Mei 2018 kami lakukan steril pada Hyu di petshop langganan kami yaitu Koneko petshop (Jl, Kemuning, Madiun).

Malam sebelumnya saya sudah membuat janji dengan Dokter Ari. Dan syaratnya adalah Hyu harus puasa minimal 8 jam sebelum tindakan steril.

Ketika sampai di petshop, Hyu lantas dibius terlebih dahulu. Tindakan dilakukan setelah Hyu benar-benar berada di bawah pengaruh obat bius. Kira-kira setelah setengah jam baru Hyu tidak sadar. Kalo tindakan sterilnya sih Cuma sekitar 15 menit saja.

Karena Hyu jantan, maka tindakan dilakukan dilakukan dengan cara mengambil testisnya. Sehingga nantinya skrotum Hyu menjadi lebih kecil dari semula karena sudah tidak berisi testis lagi.

Setelah tindakan selesai, Hyu diperbolehkan pulang. Ada dua obat yang harus diminumnya dan ada satu salep yang harus dioles di lukanya sampai mengering.

Begitu sampai di rumah, Hyu belum juga tersadar. Hingga dua jam kemudian barulah ada pergerakan dari Hyu. Perawatan Hyu setelah tindakan steril tidak seribet ketika Jenggo dan Hoheng steril. Dan juga Hyu adalah kucing yang mudah ketika dispuit untuk minum obat.
Dalam waktu lima hari, Hyu sudah benar-benar sehat seperti sedia kala. Yang lebih menyenangkan adalah Hyu sudah tidak pernah menandai wilayah dengan air seninya dan juga tidak pernah mengeong dengan keras.

Bahkan setelah steril nafsu makan Hyu menjadi bertambah yang membuat badannya juga semakin berotot…

Sehat-sehat Hyu ganteng…

Monday, 19 November 2018

Bakso Klenger, Ratu sari Yogyakarta


Ketika sedang liburan ke Jogja seperti sekarang, pasti yang kami cari adalah tempat wisata dan kulinernya. Nah Bulan Mei 2018 ini, salah satu kuliner tujuan kami adalah bakso klenger.

Sebenarnya ayah yang ingin mencoba sebesar apa ukuran bakso klenger itu. Karena orang rumah enggak ada yang tau di mana lokasinya maka bertanyalah saya kepada mbah google. Ketemulah bakso klenger yang terkenal sejak tahun 2011 yaitu Bakso Klenger Ratu Sari.

Lokasi outletnya ada di Jl. Wahid Hasyim 296 Depok Sleman. Pada tanggal 1 Mei 2018 saya, ayah dan Asllan segera meluncur dan siap untuk menyantap bakso yang dibilang heboh ini. Tapi apa daya, ketika sampai di outletnya, ternyata tutup karena sedang direnovasi. Sedihhh deh…

Eh, ada sebuah pengumuman yang ditempel di dinding, tuh. Ternyata sambil nunggu renovasi selesai, bakso tetep buka di outlet kedua yang beralamat di Jl. Perumnas, Mundu Saren Caturtunggal Depok Sleman. Langsung deh cussss ke sana…

Alhamdulillah sampai di lokasi belum terlalu ramai. Kami bisa memilih meja yang kami suka. Wah, ternyata masing-masing meja punya keunikan sendiri-sendiri yang instagramable. Ada yang bernuansa ruang keluarga tempoe doeloe, gebyog, lesehan, tema sepeda kuno, sampai dengan becak yang digunakan sebagai kursi. Unik dan eye catching banget, kan?

Asllan dan ayah pilih kursi yang lesehan dengan pertimbangan Asllan bisa nyaman untuk makan sendiri. Salah seorang pelayanpun datang menghantarkan menu yang dikemas dalam sebuah telenan kayu yang unik.

Menu yang tersedia adalah bermacam-macam bakso. Mulai bakso campur seharga Rp. 15.000,-/porsi hingga menu andalan yaitu bakso klenger. Bakso klenger juga tersedia dalam berbagai ukuran mulai 1 kg hingga pesanan khusus (5-50 kg). kebayang dong, sebesar apa baksonya?

Kami memesan bakso klenger ukuran 1 kg. Untuk mi dan sayuran akan disesuaikan dengan jumlah orang yang datang. Dannnn….gratis, lho…

Ketika bakso 1 kg ini datang, betapa terpananya kami bertiga melihat ukuran si bakso. Bahkan piranti perang alias alat makan yang disiapkan juga berukuran super. Nah, si bakso 1 kg ini berisi dua telur ayam utuh dan daging tetelannya.

Awalnya saya dan ayah khawatir jika rasanya biasa saja karena mengandalkan ukurannya. Tapi ternyata kami salah. Mulai dari kuah hingga bakso semua mempunyai rasa yang mantappp…Asllan juga menyantapnya dengan lahap.

Untuk membantu pengunjung memperkirakan ukuran masing-masing bakso, di sana telah tersedia replika bakso masing-masing ukuran. Nah, replika inilah yang paling laris dijadikan spot foto.

Sepertinya bakso klenger ini menjadi kuliner favorit di Jogja. Semakin lama pengunjung semakin banyak dan datang silih berganti. Dan alangkah beruntungnya kami datang sebelum jam ramai sehingga bisa memilih meja yang disukai. Ketika itu kami sampai di outlet sekitar pukul 09.20 WIB.

Saya dan ayah menyimpulkan outlet bakso klenger 2 ini menonjolkan sisi Jawa yang kental. Semua ornamennya menunjukkan hal itu. Mulai dari telepon kuno, sepeda kuno, kap lampu bentuk sarang burung, pintu kamar mandi, dan mushola yang terletak di rumah panggung kayu menjadikan tampilannya klasik.

Pengunjung yang membawa mobil tidak perlu pusing mencari tempat parkir. Lahan parkirnya luas, kok. hanya saja agak panas karena pohon peneduhnya belum besar.
Nah, bagaimana kabar bakso 1 kg pesanan kami? Tentu saja kami bertiga enggak bisa menghabiskannya. Tapi enggak usah khawatir, sisa bakso bisa dibawa pulang, kok.

Ada satu hal unik yang ada di sini. Yaitu ketika membayar di kasir, petugas kasir akan selalu menanyakan “sudah klenger?”


Sunday, 21 October 2018

Abon Lontong, Untuk Teman Kakak Ebe

Setelah kematian Mumu dan Bo, Be terlihat sangat sedih. Satu hari kemudian, dia tidak mau makan, namun badannya tidak panas. Kami ganti pakannya dengan wetfood, dan bersyukurlah kami karena dia mau menyantapnya. Alhamdulillah dua hari kemudian nafsu makannya kembali normal dan sudah bisa makan Dryfood lagi.

Kami sadar, sepertinya Be kesepian karena tidak ada teman bermain lagi. Om Hyu dan Tante Toteng sudah terlalu dewasa untuk bermain dengan Be. Setelah diskusi dengan suami, akhirnya kami putuskan mencari seekor kitten untuk teman Be.
Kebetulan ada teman yang menawari kitten hasil kawin persimed dan kucing kampung. Sebenarnya ada empat ekor, namun saya hanya ambil satu ekor yang coraknya mirip dengan Tante Toteng. Kami beri nama Won. Tapi Asllan mendengarnya adalah Bon, dan dia berkomentar, “Kok kayak abon aja, Bun?”

Akhirnya untuk menerima masukannya Asllan, kami memberinya nama Abon, Won Abon alias Abon Lontong tepatnya.

Sejak tanggal 23 Mei 2018 Abon resmi menjadi kucing milik kami. Dia adalah kucing betina usia sekitar tiga bulanan. Badannya gendut, gilig, dan bulunya sudah terlihat lebih panjang daripada kucing kampung pada umumnya. Wajahnya juga tidak lancip. Cantiknya nggemesin,deh.

Dan kedatangan Abon ini mengembalikan keceriaan Be dan kami semua. Tingkah polahnya lucu banget, senengnya tidur dekat dengan orang. Dan dia merebahkan badannya tidak kira-kira. Langsung aja rebahan entah di bawahnya ada barang apa dia tidak peduli. Selain itu Abon senang tidur terlentang, dan berada diantara kasur dan dinding.

Melihat bentuk kakinya Abon membuat kami sering tertawa. Karena terlihat pendek namun gempal berisi daging. Begitu juga tapak langkah kaki belakangnya menjurus keluar. Padahal biasanya kaki belakang kucing itu menapak lurus seperti peragawati, kan?

Abon Lontong…
Sehat terus ya….
Makan yang banyak dan awet di rumah bunda ya…
We luv u Abon….

Sunday, 14 October 2018

Piknik Tipis-Tipis Ke Watu Rumpuk, Desa Mendak, Kabupaten Madiun.




Yuhuuu… hari sabtu tlah tiba…
Kali ini saya memaksa ayah untuk jalan-jalan alias piknik tipis-tipis di Hari Sabtu. Jalan-jalan yang agak jauh tapi puas. Hari minggunya masih bisa istirahat di rumah sebelum kembali beraktivitas di Hari Senin.
Pilihan kali ini jatuh ke tempat wisata baru yaitu Watu Rumpuk. Watu rumpuk terletak di Desa Mendak Kecamatan Dagangan, Kab. Madiun. Berjarak sekitar 25 km dari rumah kami, Watu Rumpuk dapat kami tempuh dengan lama perjalanan kurang lebih satu jam.
Pada tanggal 8 September 2018, saya, ayah dan Asllan mengunjungi Watu Rumpuk melalui Dolopo. Dari masjid besar Dolopo belok ke kiri. Pada traffic lightnya ada petunjuk arah ke Watu Rumpuk. Yang saya ingat ada patung semar di perempatan tersebut.
Saya dan ayah sengaja berangkat dengan perut kosong alias belum sarapan. Kami berniat sarapan nasi pecel daun jati di tengah perjalanan kami. Kalo Asllan tetap sarapan dari rumah dong.
Nasi pecel daun jati dapat kita temui tidak jauh dari perempatan masjid besar Dolopo. Sekitar 300m ada penjual nasi pecel tersebut di kanan jalan. Dua ratus meter kemudian dapat kita temui juga nasi pecel daun jati di sebelah kiri jalan. Hanya dengan harga Rp. 5.000,- sudah dapat menikmati nasi pecel dengan lauk tempe goreng dan peyek. Yang jelas perut sudah kenyang dong…
Perjalanan kami lanjutkan lagi. Setelah memasuki gapura masuk Desa Siluk, ada petunjuk arah belok kiri jika akan ke Watu Rumpuk. Kita ikuti saja petunjuk arah tersebut, sudah banyak tersedia, kok.
Jalan yang dilalui lumayan ekstrim. Naik turun dengan tikungan-tikungan yang tajam. Ditambah dengan aspal yang sudah mulai mengelupas membuat ayah sangat berhati-hati mengendarai motornya.
Akhirnya sampai juga kami di gerbang unik yang ternyata loket pembayaran tiket masuk. HTM watu rumpuk yaitu Rp. 5.000,-/orang dan parkir roda dua sebesar Rp. 2.000,-. Tiket parkir jangan sampai hilang, karena akan diminta ketika kita parkir.
Ketika kami ke sana, pembangunan watu rumpuk masih terus berlangsung. Namun fasilitas yang telah jadi menjadikan pengunjung puas mengunjunginya.
Ada sitemark watu rumpuk di depan parkir. Cukup besar untuk foto dengan rombongan yang banyak. Yang menjadi nilai jual dari watu rumpuk adalah batu-batu besar yang unik dan dipadukan dengan taman bunga warna warni yang tertata indah. Membuat batu-batu besar tersebut terlihat cantik.
Selain itu adapula rumah pohon dan beberapa gubug yang bisa digunakan untuk bersantai. Tempat sampah dan puntung rokok banyak tersedia sehingga lokasi terlihat bersih. Fasilitas umum yang ada yaitu toilet dan mushola. Food court juga tersedia yang dilokalisir dekat mushola.
Asllan senang sekali naik di rumah pohon. Berani naik sampai atas bersama ayah, lho. Dan Asllan juga semangat memanjat batu-batu besar itu. Tentu saja dengan pengawasan saya dan ayah. Bermain kejar-kejaran di jalur yang tersedia dan juga bermain petak umpet diantara kebun bunga menjadi kegiatan kita selanjutnya.
Nah, saking semangatnya berlarian, Asllan terasa laper. Maka kami menuju foodcourt. Banyak menu yang ditawarkan antara lain bakso, mi, pentol, gorengan, dan sate ayam. Pilihan kami tertuju pada sate ayam. Wah, lumayan juga menu yang tersedia di foodcourt ini.
Di atas musholla ada anak tangga yang menuju ke sebuah lokasi di bukit. Asllan semangat sekali mengajak kami menaikinya. Di atas ada beberapa spot foto yaitu kapal, lingkaran seperti sarang burung, dan spot bukit cinta.
Bukit cinta sepertinya diperuntukkan para muda mudi. Terlihat dari ornamen yang dipasang dan juga kalimat-kalimat cinta yang tertulis di beberapa tempat.
Kemudian ada pula rumah pohon atau lebih tepat disebut gardu pandang. Tapi Asllan tidak mau menaikinya. Asllan lebih memilih untuk terus berjalan hingga sampai di sisi lain tangga yang menurun. Ketika kami menuruninya, ternyata tangga ini adalah tangga yang terletak di samping sitemark watu rumpuk. Yang artinya kami sudah sampai di tempat parkir dan bersiap untuk pulang.
Saya, ayah dan Asllan sangat puas menghabiskan waktu di watu rumpuk. Semoga pembangunannya segera selesai dan menambah fasilitas di watu rumpuk.