Thursday, 28 June 2018

Si Cantik Mumu Adelia



Saya melihatnya di kantor beberapa hari yang lalu. Terlihat menggemaskan, lincah dan cantik. Ingin langsung saya bawa pulang tapi masih ragu-ragu karena belum minta ijin ke ayahnya Asllan. Sampai di rumah saya menceritakan tentang kucing kecil tersebut. Dan ketika suami saya melihatnya, langsung jatuh hati dan mau membawanya pulang
Hari itu, Kamis 22 Februari 2018 kami membawa pulang. Asllan juga sangat senang sekali karena kucingnya tambah satu ekor. Kami memberinya nama Mumu. Bahkan Asllan menambahkan nama lengkap menjadi Mumu Adelia.
Mumu adalah kucing kecil yang lincah dan pemberani. Saat berkenalan dengan Hyu dia tidak takut meski badannya jauh lebih kecil. Begitu juga ketika berkenalan dengan Toteng, Mumu terlihat waspada namun tidak takut.
Mumu tergolong kucing yang makannya gampang. Makan DF oke, makan sisa ayam atau ikan juga oke. Mentega dan telur juga oke. Minumnya pun juga tidak memilih, air putih maupun susu semua disukainya.
Ketika tidur, Mumu lebih senang dekat dengan saya maupun suami. Tapi akhir-akhir ini dia sudah lebih berani tidur sendiri di bawah meja belajar Asllan.
Mainan yang disukai Mumu adalah mengejar sesuatu. Baik bola, biji salak, hingga Koran yang sering dibuat mainan.
Wajah Mumu memang menggemaskan. Dengan tatapan yang polos dan badan yang masih kecil semua tingkah lakunya terlihat lucu.
Dengan kedatangan Mumu Adelia, sekarang kami sudah tidak memanggil Mbak Toteng tapi diganti dengan Tante Toteng. Begitu juga dengan Adek Hyu sekarang panggilannya berubah menjadi Om Hyu.
Namun sayang, Mumu hanya bertahan selama dua bulan saja di rumah kami. Pada tanggal 4 Mei 2018 Mumu mati di kandang. Setelah sebelumnya sempat tidak mau makan.
Selamat jalan Mumu…
Kamu adalah kucing tercantik yang pernah kami punya…
Maafkan kami ya Mumu…
Semoga kamu tenang dan sudah bahagia di sana…
Kami sayang Mumu…

Wednesday, 27 June 2018

Umbul Square


Sebetulnya sudah lama saya ingin mengajak Asllan dan Ayahnya berkunjung ke Umbul Square. Lokasi yang sering saya lewati ketika perjalanan ke hutan, menumbuhkan rasa penasaran. Ditambah cerita dari beberapa teman yang sudah berkunjung ke sana menjadikan saya semakin bersemangat untuk segera mengunjunginya.
Akhirnya pada tanggal 21 Januari 2018 saya mengajak Asllan dan Ayahnya ke Umbul Square. Komentar pertama yang keluar dari Asllan adalah “jauh”. Tapi dia tetap semangat ingin tahu ada apa di dalamnya.
Setelah dari parkiran, yang pertama kami temui adalah gedung klinik dan karantina satwa. Saya dan suami senang dengan adanya gedung ini. Karena itu pertanda bahwa manajemen Umbul Square peduli terhadap satwa di dalamnya.
Zona pertama yang kami kunjungi adalah minizoo Wanamarta. Mulai dari burung kasuari, burung kakaktua, musang, ular, buaya, monyet, landak, simpanse, merak, dan singa. Masing-masing kandang terdapat papan informasi yang memudahkan pengunjung untuk mengetahui tentang satwa penghuni kandang tersebut.
Di kandang anakan buaya muara, terdapat tawaran untuk berfoto dan memberi makan buaya (tentu saja dengan didampingi keeper). Tidak disangka ternyata Asllan ingin pegang anakan buaya tersebut. Langsung saja saya mengijinkan, dong. Dengan didampingi ayahnya dan mas keeper, Asllan langsung pegang anakan buaya tersebut.
Selain foto dengan anakan buaya, Asllan dan ayahnya juga memberi makan rusa di kandangnya. Kebetulan memang telah tersedia pakan yang bisa dibeli untuk diberikan kepada rusa.
Selain aneka satwa, di zona minizoo tersebut terdapat beberapa tanaman langka yang sudah diberi papan informasi mengenai nama latin dan fungsi dari masing-masing jenis tanaman tersebut. Tentu saja bisa meningkatkan pengetahuan pengunjung. Namun yang perlu diingat, tanaman tersebut bukan untuk dibawa pulang.
Setelah selesai dari zona minizoo, kami melanjutkan perjalanan ke wahana permainan. Terdapat bianglala yang cukup tinggi, komedi putar, dan kora-kora, dengan harga tiket Rp. 5.000,- untuk masing-masing permainan. Pilihan kami jatuh pada bianglala. Bianglala ini berjalan perlahan karena pada posisi puncaknya cukup tinggi. Sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan sekitar Umbul Square dengan nyaman.
Dari ketinggian pada bianglala itulah, kami melihat adanya zona waterboom, outbond, dan taman lampion di kawasan Umbul Square. Tentu saja, lokasi tersebut menjadi target kunjungan kami selepas turun dari bianglala.
Dalam perjalanan menuju lokasi outbond, kami tertarik pada pojok sejarah. Ternyata ada sebuah sumber mata air belerang di sini. Disebut dengan sumber air belerang Tirta Amerta. Selain itu, terdapat sebuah makam di dalamnya. Tidak terlalu lama kami berada di pojok sejarah, karena Asllan mengajak ke zona outbond.
Zona outbond sebenarnya cukup lengkap, namun sepertinya jarang digunakan. Dan ketika kami berkunjung ke sana tidak ada petugas yang menjaganya. Jadilah kami para orangtua yang menjaga anak masing-masing.
Di samping zona outbond, terdapat zona lampion. Sebenarnya sangat menarik lampion yang ditawarkan. Hanya saja saya kurang tau, apakah Umbul Square ini buka sampai malam. Karena kecantikan zona lampion pasti akan terlihat ketika malam tiba.
Setelah zona lampion, sampailah ke zona waterboom dengan harga tiket Rp. 5.000,-/ orang. Karena Asllan tidak kami persiapkan untuk bermain ke waterboom, jadilah kami hanya melihat dari luar saja.
Di samping waterboom, terdapat zona mainan modern. Seperti otopet, eksavator pasir, dan odong-odong. Tentu saja, Asllan langsung minta mainan eksavator pasir favoritnya. Sambil menunggu Asllan bermain eksavator, saya tertarik dengan keberadaan seekor ular sanca albino. Ternyata, ular tersebut adalah sebuah property untuk foto yang disediakan bagi pengunjung yang berminat.
Ketika saya tawarkan ke Asllan, ternyata dia dengan semangat mau foto dengan ular sanca tersebut. Jadilah kami sekeluarga foto dengan ular tersebut. Wah, ternyata lumayan berat juga si albino ini. Yang membuat saya senang adalah Asllan sama sekali tidak takut untuk pegang si albino. Padahal saya sebetulnya merinding disko harus pegang si albino ini.
Hemmm…, dengan tiket masuk seharga Rp. 20.000,-/pengunjung ketika hari sabtu/minggu/libur, kami puas dengan keberadaan wahana di Umbul Square ini. Bisa dijadikan referensi tempat liburan di Madiun, deh.

Thursday, 21 June 2018

Kucing Kantor Yang Akhirnya Menjadi Milikku (Hyu)


Saya melihat kucing ganteng ini sejak Crimy masih sakit di rumah. Pertama melihatnya langsung jatuh cinta karena mata birunya mengingatkan saya kepada Crimy. Ditambah lagi ternyata kucing ini adalah jantan.
Ketika Asllan melihatnya ingin segera membawanya pulang. Ayah juga menilai dia adalah kucing yang ganteng. Namun kami urungkan niat untuk membawanya karena masih ada Crimy yang sedang sakit. Kami tak ingin konsentrasi kami terbagi dengan adanya kucing baru.
Semakin lama kucing itu terlihat semakin besar namun tidak gendut. Bahkan corak bulu dan warna matanya mulai memudar. Seringkali dia kalah karena kedatangan kucing yang lain. Alhasil tubuhnya semakin kurus.
Ketika Crimy telah mati, Jenggo Hilang dan F4 mati, kami berniat mencarikan teman untuk Loreng.  Akhirnya saya membawanya pulang pada tanggal 2 Agustus 2017 dan kami beri nama Hyu. Selama satu minggu pertama saya mengkarantina dia. Dia makan dengan lahap dan langsung ‘menggeolkan’ kepalanya ke tangan saya sebagai tanda terima kasih. Bukan ‘geolan’ lembut tapi ‘geolan’ kuat seakan-akan sangat berterima kasih pada saya.
Tidak ada masalah dengan makanan, minuman maupun BAB Hyu. Semua berjalan normal dan Hyu berubah menjadi seekor kucing yang ganteng dan semok. Saya dan suami menilai perkembangan Hyu berjalan dengan pesat. Semakin terlihat putih, besar dan gendut. Hyu juga akrab dengan Loreng. Mereka bermain bersama, saling berkejaran. Loreng terlihat senang dengan kehadiran Hyu.
Mungkin karena sifat liarnya, Hyu lebih pandai menangkap tikus daripada Loreng. Dia telah berhasil mendapatkan seekor tikus.
Setelah tiga bulan Hyu berada di rumah (saat saya menuliskan kisah ini) dia semakin terlihat gagah. Posturnya lebih besar daripada Loreng, bahkan berat badannya lebih besar Hyu. Begitu juga dengan kaki depan dan belakang yang juga lebih besar milik Hyu.
Kegantengan Hyu yang lain adalah bulunya yang bisa berbentuk seperti mohawk. Alami dan tidak dibuat. Apalagi ketika dia sedang bersantai. Tangan kirinya selalu menumpang di tangan kanannya. Seperti posisi “ngapurancang” kalo orang Jawa bilang.
Semoga sehat terus ya Hyu....awet dan setia jadi teman Ayah, Bunda, Kak Asllan dan Mbak Loreng.

Tuesday, 12 June 2018

Kucing Kecil Yang Tidak Bisa Bertahan (Nero)


Hari ini tanggal 1 Oktober 2017, saya, Ayah dan Asllan keliling lewat Pasar Joyo. Masih selalu berharap bertemu dengan Jenggo. Tapi sama seperti sebelumnya yang kami temui adalah seekor kucing kecil yang duduk terdiam di bawah bak sampah.
Sama seperti sebelumnya, tidak langsung kami bawa pulang. Ketika dalam perjalanan pulang dia masih berada di posisinya maka langsung kami angkut ke rumah. memang sudah terlihat lemas dan juga kotor badannya. Mungkin sudah satu minggu dia berada di tempat itu.
Kami memberi nama Nero. Nero memang lebih besar daripada F4. Jadi kami langsung memberinya dryfood (DF) khusus kitten. Dia makan dengan lahap dan BAB dengan normal (tidak mencret). Kami tidak memberinya susu dengan media dot. Karena Nero sudah bisa makan dan minum dari piring atau mangkok.
Dengan nutrisi yang masuk, Nero sudah mulai membaik. Dia mulai sering grooming sehingga tampak lebih bersih. Dan mulai menunjukkan tingkah lucu khas anak kucing. Salah satunya adalah selalu berada di atas laptop yang menyala hingga akhirnya tertidur. Selain itu jika akan tidur dia akan ngempeng perutnya sendiri, sehingga bentuk badannya akan melingkar.
Nero adalah kucing yang pintar. Dalam usianya yang masih kecil dia sudah bisa BAK dan BAB di litter box. Apabila dia sedang bermain jauh dari litter box-nya, dan sudah saatnya dia BAB atau BAK dia akan mengeong gelisah. Saya langsung membawanya ke litter box dan dia langsung melanjutkan hasratnya itu.
Ternyata kegembiraan itu hanya berlangsung selama dua hari. Pada hari ketiga (3 Oktober 2017) Nero terlihat lemas, tidak nafsu makan dan mencret. Kondisi itu berlangsung selama tiga hari yang membuat kami membawa Nero ke dokter hewan terdekat. Di sana Nero diberi obat mencret, obat cacing, dan vitamin.
Setelah minum obat tersebut dia mulai sedikit bergairah meski masih tidak mau makan. Makanan kami ganti dengan ayam rebus dan ikan pindang yang beraroma lebih menyengat. Mulailah dia makan sedikit demi sedikit. Tapi sayangnya mencret tidak kunjung berhenti.
Lima hari setelah minum obat, dokter menanyakan kondisi Nero yang masih mencret. Akhirnya direkomendasikan mengganti makanan dengan Royal Canin Intestinal. Saya mulai memberinya RC Intestinal. Memang berangsur BAB sudah mulai membaik dan anus Nero kembali normal.
Sayangnya, dua hari setelah sembuh sementara itu, kondisi Nero mulai mencret lagi. Meski sudah diberi RC Intestinal maupun obat dari dokter namun mencretnya tak kunjung sembuh. Dengan anus yang mulai memerah, semakin menurun pulalah kondisi Nero.
Hingga pada tanggal 24 Oktober 2017, Nero mati dan kami sekeluarga sempat menunggui sakratul mautnya.
Selamat jalan, Nero
Semoga kamu sudah tidak kesakitan lagi
Maafkan kami hanya bisa merawat sebentar saja.

Tuesday, 5 June 2018

Empat Kucing Kecil Yang Dijuluki F4


Sejak Jenggo tidak pulang, kegiatan saya dan suami tiap sore adalah berkeliling komplek dan sekitarnya untuk mencarinya. Bahkan dua malam terakhir kami mencari Jenggo sampai ke Pasar Hewan (Joyo). Pada malam kedua kami mencarinya, tepatnya tanggal 4 Juli 2017 bukannya ketemu Jenggo. Tapi kami malah mendengar tangisan kucing kecil. Setelah dicari, kami menemukan empat ekor anak kucing yang gendut, bersih dan lucu.
Kami urungkan untuk membawa mereka pulang ke rumah karena tujuan kami adalah mencari Jenggo. Ketika perjalanan pulang, kami melewatinya lagi. Dan mereka masih berada di sana dan masih menangis. Karena tidak tega, akhirnya kami bawa mereka berempat pulang ke rumah.
Mereka kira-kira sudah berumur satu bulan. Sudah lebih besar daripada Bantar yang pernah kami temukan sebelumnya. Hanya saja sepertinya mereka baru bisa berjalan. Karena kaki belakangnya masih sedikit rendah. Namun mereka sudah mulai bisa grooming sendiri.
Mereka berempat terdiri dari dua ekor jantan dan dua ekor betina. Masing-masing kami beri nama Foge, Whooper, Limbuk dan Cempluk. Untuk menyingkatnya kami menyebut mereka F4. Foge dan Whooper adalah kucing jantan sedangkan Limbuk dan Cempluk adalah kucing betina.
Corak Foge mirip seperti Crimy, sedangkan Whooper seperti Loreng tapi ada empat buah bulatan layaknya dalmation. Untuk Cempluk persis seperti slewah (anaknya Jenggo). Sedangkan Limbuk berwarna putih dengan motif bulatan berwarna cokelat kuning seperti Jenggo.
Saya dan Suami bergantian memberi susu dengan media dot. Mereka ternyata sudah pintar minum susu. Berempat secara gantian mulai minum dengan dot. Yang paling banyak minum susu adalah Limbuk. Kemudian diikuti Cempluk dan Whooper. Untuk Foge paling susah minum dot. Dari awal kami temukan dia yang sudah terlihat lemas dan badannya paling kecil.
Kami berusaha memberi susu dua jam sekali. Akhirnya mereka berempat mulai terlihat lincah dengan perut yang gembul. Hingga tiba saat kami harus ke Jogja selama satu hari. Suami merasa sayang apabila harus menitipkan F4. Sedangkan pertimbangan saya adalah daripada tidak ada yang merawat lebih baik dititipkan saja.
Akhirnya kami titipkan F4 ke petshop dekat rumah. Di sana F4 diberi dryfood (DF) dan mau. Begitu pula ketika dikasih wetfood (WF). Hanya saja saya berfikir apakah seusia itu sudah bisa makan? Tapi saya pasrahkan saja kepada dokternya.
Besok malamnya saya ambil F4 untuk kembali ke rumah. alangkah kagetnya saya dan suami melihat kondisi F4. Mereka terlihat kotor dengan bekas BAB yang tercecer di badan mereka. Selain itu leher dan mulut basah kuyup. Sepertinya cara memberi minumnya berbeda dengan di rumah.
Yang terlihat sangat berbeda adalah mereka diberi susu dengan dosis satu sachet untuk sekali minum. Padahal ketika di rumah, mereka minum susu tapi tidak sekental itu. Yang terjadi adalah mereka mencret. Padahal ketika kami titipkan mereka BAK dan BAB dengan normal sehingga anusnya bersih.
Kami berfikir bahwa mereka pasti mencret. Karena selain bekas BAB yang belepotan, anus  mereka juga terlihat merah. Benar saja, ketika kami masukkan ke litter box mereka langsung BAB dan mencret!.
Sangat menyesal mengetahui kondisi F4 saat itu. Mereka jadi terlihat kotor dan kurang sehat. Yang membuat kami sedih adalah mereka tidak mau lagi minum pake dot. Dan nafsu makan mereka mulai menurun. Kami beri DF maupun WF, susu dari dot, susu dari mangkok semuanya tidak mereka sentuh.
Pada tanggal 17 Juli 2017 malam Foge mati, kemudian diikuti Whooper besok paginya. Cempluk menyusul tiga hari kemudian (20 Juli 2017). Dan yang terakhir meninggalkan kami adalah Limbuk pada tanggal 21 Juli 2017.

Maafkan kami, F4...
Semoga kalian tenang di sana...
We luv u...

Wednesday, 30 May 2018

Hilangnya Jenggo


Sebenarnya saya agak kesulitan ketika nulis kisah ini. Saya belum siap mengutarakan statement bahwa Jenggo telah hilang. Hingga saya menuliskan ini, saya masih berharap Jenggo pulang ke rumah ini lagi.
Jenggo alias Nggo adalah kucing kesayangan keluarga kami. Kami mendapatkannya karena dikasih oleh tetangga kami. Kebetulan suami dan Asllan yang menerimanya. Saat itu tanggal 21 Maret 2016. Pulang kerja, saya kaget karena disambut oleh suara “meong” seekor kucing kecil. Tapi seneng juga, ketika tau bahwa kucing itu adalah pemberian tetangga. Kami beri nama Jenggo.
Saat kami terima, Jenggo berusia kurang lebih satu setengah bulan. Dia datang dengan tubuh kurus dan telinga sebelah kanan kotor berisi pasir. Kami bersihkan perlahan. Kami memberinya makanan berupa ayam rebus, ikan pindang dan nasi.
Selang seminggu Jenggo mulai mencret, lemas dan sempoyongan ketika jalan. Waduh! Paniklah kami. Pulang kerja saya dan suami segera membawa Jenggo ke drh Lailatun. Disana Jenggo diperiksa dan diberi obat. Tiga hari kemudian, Jenggo sudah sehat seperti sedia kala.
Perlahan kami alihkan dia dengan makanan dryfood (DF). Awalnya Jenggo menghindar dan lebih memilih tidak makan. Tapi memasuki hari ketiga dia mulai makan DF-nya hingga dia mulai terbiasa dengan makan DF.
Jenggo adalah kucing yang baik dan setia. Seminggu sebelum saya mendapat undangan pelantikan di Malang, Jenggo tiba-tiba menjilati ibu jari kaki kanan saya. Ketika saya harus berangkat dan mulai pindah kerja di Malang, Jenggolah penghibur Asllan dan Ayah di Madiun.
Jenggo selalu BAK dan BAB di pasir yang telah kami sediakan. Dia sering mengajak mainan Asllan dan Ayah. Bahkan ketika Asllan tiba-tiba menangis keras dalam tidurnya, Jenggo datang tergopoh-gopoh dan mengelilingi Asllan sambil mengeong. Seakan dia memberitahu saya bahwa Asllan menangis. Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali saja tapi selalu terjadi ketika Asllan menangis.
Satu minggu sebelum hari lebaran tahun 2016, kami kedatangan seekor kucing betina berwarna calico seumuran Jenggo. Sepertinya Jenggo senang mendapat teman. Kucing itu diajaknya bermain dan makan bersama-sama. Ketika saya memberi makan untuk Jenggo, dia malah terdiam. Dan mempersilakan kucing betina itu untuk makan terlebih dahulu. Ketika temannya telah selesai  makan barulah Jenggo makan sisa temannya itu.
Tibalah saat lebaran tahun 2016. Kami menitipkan Jenggo di klinik hewan karena kami mudik ke Jogja. Namun teman Jenggo tidak ikut dititipkan karena kami tidak tahu pasti siapa pemiliknya. Pulang dari mudik tahun 2016 kami mengambil Jenggo. Dia terlihat senang dan kangen dengan kami. Seminggu di penitipan Jenggo terlihat tambah gemuk karena selalu masuk kandang dan jarang bermain. Sampai di rumah ternyata dia mencari temannya itu. Dia mengeong kesana kemari, gelisah dari pintu depan ke pintu belakang. Akhirnya saya bisikkan ke telinganya bahwa temannya sudah pulang ke rumahnya. Baru setelah itu dia terdiam.
Melihat itu, saya merasa kasihan. Sepertinya dia butuh teman. Dan tak lama kemudian suami menemukan seekor anak kucing yang terkena lem. Suami membawanya pulang dan merawatnya. Kami beri nama Loreng (yang nantinya berubah nama menjadi Toteng).
Jenggo terlihat senang dengan keberadaan loreng. Dia sering mengajak Loreng bermain bersama. Hingga akhirnya tibalah saat Jenggo birahi. Dia selalu dikejar kucing mix milik Pak Agung. Selain itu kucing liar berwarna hitam juga sering menunggu Jenggo keluar rumah. Cieee...apa mungkin Jenggo menjadi primadona di mata kucing-kucing itu, ya?
Saya mulai khawatir apabila Jenggo hamil. Saya ingin mensterilkan Jenggo namun dilarang oleh suami. Dengan alasan ingin Jenggo melewati kodratnya sebagai kucing betina untuk hamil dan melahirkan. Benar saja, pada tanggal 8 Oktober 2016 Jenggo melahirkan tiga ekor anaknya. Tempat yang dipilihnya untuk melahirkan adalah kardus di Gudang.
Proses itu terjadi di Hari Sabtu. Saya, Asllan dan Ayah akan berangkat jalan-jalan. Jenggo terlihat gelisah hilir mudik mengelilingi kami. Saya bisikkan ke telinganya “kalo mau lahiran, lahiran aja. Jenggo kucing yang pintar. Nanti kami pulang sudah bisa lihat anak-anakmu.”
Benar saja. Ketika kami pulang dan sampai di rumah, Jenggo mengeong-ngeong seolah-olah mengajak kami untuk mengikutinya. Dan ternyata di wilayah anus dan pantatnya masih terlihat berdarah. Jenggo sudah melahirkan!
Jenggo mengggiring kami ke gudang. Lantas dia meloncat masuk ke kardus bekas almari es. Di sana telah lahir tiga ekor anak Jenggo yang sudah bersih. Kami beri nama Ganang, Telon dan Slewah. Hem, meski belum cukup umur tapi Jenggo adalah kucing yang pintar. Melahirkan sendiri tanpa dibantu siapapun dan anak-anaknya telah bersih.
Ketika mama datang ke Madiun, Jenggo juga berlaku sama. Dia menggiring mama ke gudang untuk menunjukkan anak-anaknya.
Jenggo bisa merawat anak-anaknya dengan baik. Dia susui anak-anaknya secara bergiliran. Dia terlihat sayang dengan anak-anaknya. Hingga akhirnya tiba saat Jenggo mulai birahi lagi. Karena ketakutan akan hamil lagi, akhirnya saya putuskan untuk mensteril Jenggo.
Steril dilakukan di drh Syaiful daerah Jiwan. Hanya berlangsung satu hari saja. Dan Jenggo bisa dibawa pulang meski harus dengan perawatan ekstra karena masih menyusui. Benar saja, selang tiga hari setelah steril, benang jahitan Jenggo lepas karena ditarik Telon ketika menyusu. Dan Jenggo hanya diam saja dengan wajah pucat menahan sakit. Terpaksa kami mengundang dokter Syaiful.
Alhamdulillah, tidak perlu dijahit ulang hanya harus lebih rutin mengganti perban dan memberi betadin. Suami dan Asllan sudah mengikhlaskan jika Jenggo mati karena lepasnya benang operasi. Namun saya belum ikhlas karena saya tahu Jenggo kucing yang kuat.
Benar dugaan saya. Tak lama kemudian Jenggo sembuh total. Dan dia sudah bisa berburu lagi. Seringkali dia pulang membawa cicak dan memanggil anak-anaknya yang sudah mulai bisa makan. Dan ketika anak-anaknya datang, Jenggo hanya melihat dari pinggir. Dia biarkan anak-anaknya bermain atau makan apa yang dia bawa.
Selepas kematian ketiga anaknya, Jenggo terlihat semakin sayang dengan Crimy, Blek, dan Loreng. Dia melakukan hal yang sama ketika anak-anaknya masih hidup. Dia bawa pulang hasil buruannya. Dia memanggil adik-adiknya dan hanya melihat dari pinggir. Jenggo akan makan setelah adik-adiknya kenyang.
Kelebihan Jenggo yang lain adalah dia bisa membuka pintu ruang tamu baik dari dalam maupun luar. Jadi ketika terdengar suara pintu berusaha dibuka, munculah Jenggo masuk rumah atau keluar rumah.
Pada saat mudik Idul Adha tahun 2017 kami tidak menitipkan kucing-kucing kesayangan ke petshop karena jumlahnya sudah tujuh ekor. Sebagai gantinya saya minta tolong kepada penjaga kantor untuk memberi makan sekaligus menjaga rumah kami. Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga kami kembali pulang ke Madiun.
Hingga suatu hari, Jenggo pulang membawa burung perkutut yang masih hidup. Burung itu tidak dimakannya hanya digeletakkan di depan dapur. Burung tersebut dirawat oleh suami. Dan seminggu kemudian turun SK promosi untuk saya. Dua kali sudah Jenggo membawa sinyal untuk perubahan. Entah hanya kebetulan atau memang itu pertanda dari Jenggo.
Satu minggu sebelum kami mudik ke Jogja, Jenggo pulang ke rumah tanpa kalungnya. Memang kalungnya sudah tidak bagus lagi. Tapi sayangnya saya belum sempat membuatkan yang baru.
Hingga tiba saatnya kami untuk mudik di Hari Raya Idul Fitri tahun 2017. Seperti biasa, kami minta tolong kepada penjaga kantor untuk menjaga Jenggo dan Loreng. Dan kami tiba kembali di Madiun pada tanggal 30 Juni 2017.
Cerita sedih dimulai dari sini. Sejak kami kembali ke Madiun, Jenggo tidak pernah terlihat sama sekali. Hanya Loreng yang masih ada di rumah. Kami menganggap Jenggo masih bermain di luar. Hingga kami minta informasi dari tetangga samping rumah dan penjaga  kantor. Mereka mengaku masih melihat Jenggo malam hari sebelum kami sampai di Madiun.
Sedikit perasaan tidak enak menghinggapi saya. Harapan saya adalah nanti malam atau besok pagi Jenggo akan pulang karena lapar. Dan memang kebiasaan Jenggo akan pulang tiap subuh dan langsung minta makan.
Hari kedua kami di Madiun namun Jenggo tak kunjung datang. Akhirnya saya dan suami keliling komplek rumah dan belakang rumah mencarinya. Namun Jenggo tak kunjung terlihat. Agak aneh bagi saya, karena jika Jenggo mendengar suara suami memanggilnya, dia akan berlari pulang. Tapi ini sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
Saya semakin sedih, dan meminta suami untuk mencari di Pasar Joyo (Pasar hewan), siapa tahu ada yang jahat dan menjual Jenggo. Selama dua hari berturut-turut kami berkeliling namun hasilnya nihil. Sampai saat inipun kami tidak tahu di mana keberadaan Jenggo. Masih hidup atau sudah mati. Malah kami mendengar kabar kucing jantan mix milik Pak Agung juga hilang.
Dimanakah kamu, Nggo?
Pulanglah, Nggo...
Ayah, Bunda dan Kak Asllan kangen sama kamu...
Sudah lima bulan kamu pergi, bagaimana kondisimu?
Sehat-sehat ya, Nggo...
Pulanglah...kami menunggumu...

Tuesday, 29 May 2018

Loreng Alias Toteng Alias Hoheng


Loreng ini kucing yang paling awet sejak kecil. Pertama kali ditemukan ayah di Pasar Joyo Madiun pada tanggal 6 Oktober 2016. Pada saat ditemukan, kondisinya nempel di selembar kertas karena pada perut hingga ke alat kelaminnya terkena lem. Posisinya tengkurap dengan suara meongan yang keras. Umurnya kurang lebih satu setengah bulan saat itu. Tanpa pikir panjang, Ayah membawanya ke rumah.
Persoalan berikutnya adalah, bagaimana cara lem ini bisa hilang dari bulu-bulunya? Langkah pertama adalah melepaskan kertas dari tubuhnya. Dengan perlahan yang pastinya tetap sakit, akhirnya terlepaslah kertas tersebut namun masih meninggalkan lem di tubuh mungilnya. Awalnya kami coba menggunakan bensin, namun sepertinya kulitnya masih terlalu muda dan panas. Sempat memerah ketika terkena bensin. Kami hentikan penggunaan bensin. Ayah berfikir keras apalagi bahan yang bisa digunakan untuk menghilangkan lem itu. Pilihan jatuh ke terigu, semua bagian yang terkena lem, diberi terigu oleh Ayah. Dasar pertimbangan menggunakan terigu adalah ketika Loreng menjilati bulunya, terigu relatif aman. Alhamdulillah upaya tersebut berhasil. Setelah satu minggu semua lem telah hilang dari tubuhnya. Tinggal memandikan Loreng agar terlihat cantik.
Setelah mandi, Loreng terlihat lebih bersih dan makin cantik. Namun dia terlihat menjauh dan minder dari kucing yang lain yaitu Blek, Crimy, Jenggo, Ganang, Slewah, dan Telon. Saat yang lain berkumpul untuk bermain, Loreng hanya diam di pojokan tidak ikut bermain. Entah karena masih adaptasi atau karena takut dengan jumlah tuan rumah yang sangat banyak.
Yang jelas, kami tetap merawatnya sama seperti yang lain. Tidak pernah kami membedakan sedikitpun. Pada suatu hari saya menerima berita dari Ayah. Bahwa tidak sengaja Ayah menginjak Loreng sampai dia muntah darah. Bahkan sampai keluar feces dari anusnya. Gerakannya pun sudah di luar kontrol, karena Loreng bergerak mutar2 lalu terdiam di pojokan dengan nafas yang tersengal-sengal. Ayah merasa bersalah dan pasrah tentang nasib Loreng. Tiga hari dia hanya terdiam dan tidak mau makan sama sekali. Namun, Alhamdulillah mulai hari keempat dia mau makan dan akhirnya sembuh normal seperti sedia kala.
Hari terus berganti dan Loreng semakin tumbuh besar. Ada salah satu kebiasaan yang dari semua kucing di rumah, hanya Loreng yang berperilaku seperti ini. Loreng terbiasa cecep-cecep di tangan atau kaki kami (saya, ayah dan Asllan). Cecep-cecep ini adalah Loreng ngempeng sampai tangan dan kaki kami basah. Jika tangan/kaki kami tarik, dia akan menahannya. Cecep-cecep itu dia lakukan setiap menjelang tidur. Dia akan melepaskan tangan/kaki kami setelah basah dan dia terlelap.
Semakin besarnya Loreng, terkadang Asllan memanggilnya dengan Toteng. Saya dan Ayah pun mempunyai julukan Tante Toteng untuknya. Mengingat anak-anak Jenggo memanggilnya Tante (kalau bisa ngomong, lho ya). Dan ternyata muka dari Toteng ini lucu sekali. Bentuk wajahnya bulat, hidungnya tidak terlalu mancung, jadi mukanya tidak lancip. Selain itu saat melihat dengan posisi mengantuk, dia akan melihat sambil mengerjapkan matanya.
Kucing itu pasti mempunyai rasa terima kasih yang akan disampaikan ke orang tertentu. Begitu juga dengan Toteng. Dia sangat dekat dengan Ayah. Saat tidur, dia lebih sering nempel di badan Ayah. Bahkan tas yang digunakan Ayah untuk pergi menjadi salah satu barang favoritnya. Ketika tas Ayah sudah berada di rumah, Toteng akan mencari kemudian menjadikannya alas tidur.
Dan kenapa Toteng bisa kami panggil menjadi “Mbak Oteng” adalah ketika Hyu hadir di rumah. Karena memang usia Hyu lebih muda daripada Toteng.
Sehat terus ya Mbak Oteng...Ayah, Bunda dan Kak Asllan sayang ama Mbak Oteng.